Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Filosofi 'ikhlas' di balik jemparingan

Filosofi 'ikhlas' di balik jemparingan

Jogjakarta-KoPi|Kebanyakan orang memanadang jemparingan atau panahan pada aktivitas teknisnya, dengan mengabaikan sisi filosofinya. Meskipun Jemparingan kini telah terpecah menjadi dua yakni jemparingan lawasan dan Jemparingan modern namun nilai filosofinya masih tetap terjaga.

Perbedaan hanya terletak pada teknis dari cara menarik busur panahnya. jemparingan lawasan ditarik dengan posisi berdiri busur di bagian perut. Sementara jemparingan modern dengan posisi duduk atau lutut ditekuk dengan busur tanah sejajar dengan mulut.

Menurut pegiat Paseduluran jemparingan Langen Astro Hafiz Priotomo menjabarkan bagian-bagian dari jemparingan dengan jarak tempuh 30 meter ketika gladhen.

Nilai lokalnya terletak pada busur, sikap duduk, busana Jawa, proses gerak, dan gladhen. Busur terdiri dari cengkolak berati pegangan, lar berarti nalar, dan kendeng berarti usaha keras sehingga berarti orang hidup harus punya pegangan hidup yang berpikir dan bekerja keras.

“Selanjutnya sikap duduk dengan sila berarti aktivitas jemparingan bentuk relaksasi. Lalu busana Jawa dengan surjan memiliki makna bajunya dengan enam kancing menggambarkan enam rukun iman, terus ada dua di kanan dan kiri menggambarkan dua kalimat syahadat, baju menggambarkan kesiapsiagaan, proses gerak cipta mewakili kebulatad tekad yang bisa menggerakan gandewo (busur)” papar Hafiz.

Ketika anak panah lepas, itu ada proses keikhlasan sehingga secara total jemparingan melatih kerja keras, kerja cerdas, ikhlas dan evaluasi diri ketika anak panah tidak tepat sasaran.
|Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next