Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Filosofi 'ikhlas' di balik jemparingan

Filosofi 'ikhlas' di balik jemparingan

Jogjakarta-KoPi|Kebanyakan orang memanadang jemparingan atau panahan pada aktivitas teknisnya, dengan mengabaikan sisi filosofinya. Meskipun Jemparingan kini telah terpecah menjadi dua yakni jemparingan lawasan dan Jemparingan modern namun nilai filosofinya masih tetap terjaga.

Perbedaan hanya terletak pada teknis dari cara menarik busur panahnya. jemparingan lawasan ditarik dengan posisi berdiri busur di bagian perut. Sementara jemparingan modern dengan posisi duduk atau lutut ditekuk dengan busur tanah sejajar dengan mulut.

Menurut pegiat Paseduluran jemparingan Langen Astro Hafiz Priotomo menjabarkan bagian-bagian dari jemparingan dengan jarak tempuh 30 meter ketika gladhen.

Nilai lokalnya terletak pada busur, sikap duduk, busana Jawa, proses gerak, dan gladhen. Busur terdiri dari cengkolak berati pegangan, lar berarti nalar, dan kendeng berarti usaha keras sehingga berarti orang hidup harus punya pegangan hidup yang berpikir dan bekerja keras.

“Selanjutnya sikap duduk dengan sila berarti aktivitas jemparingan bentuk relaksasi. Lalu busana Jawa dengan surjan memiliki makna bajunya dengan enam kancing menggambarkan enam rukun iman, terus ada dua di kanan dan kiri menggambarkan dua kalimat syahadat, baju menggambarkan kesiapsiagaan, proses gerak cipta mewakili kebulatad tekad yang bisa menggerakan gandewo (busur)” papar Hafiz.

Ketika anak panah lepas, itu ada proses keikhlasan sehingga secara total jemparingan melatih kerja keras, kerja cerdas, ikhlas dan evaluasi diri ketika anak panah tidak tepat sasaran.
|Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next