Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Erosi budaya, anak muda semakin asing lupa jemparingan

Erosi budaya, anak muda semakin asing lupa jemparingan

Jogjakarta-KoPi|Salah satu rangkaian acara dari pameran DKV ISI Jogja mengadakan workshop Jemparingan Jawa di Benteng Vredeburg pukul 16.30 WIB.

Menurut pegiat Paseduluran Jemparingan Langen Astro, Hafiz Priotomo mengatakan jemparingan bagian kearifan lokal yang adi luhung. Tidak hanya menitikberatkan pada memanah saja namun kompleks melingkupi aspek budaya di baliknya.

“Jemparingan saat ini yang jadi bahasan tentang masalahnya, sejarah dan referensinya”, paparnya.

Jemparingan atau akrab dikenal dengan kegiatan pemanahan tradisi budaya semasa kerajaan Mataram. Semasa Mataram jemparingan menjadi hobi para keluarga kraton dan abdi dalem. Namun seiringnya perkembangan zaman telah bergeser yang bisa dinikmati oleh masyarakat secara umum.

Hafiz Priotomo mengkritik dewasa ini budaya semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Kondisi ini tidak serta merta menyalahkan anak muda yang buta budaya, kesalahan juga mengenai pada peran orang tua yang lalai meneruskan budaya yang ada.

“Budaya bisa menjadi dari tuntunan, tatanan dan tuntunan. Tetapi anak muda saat ini hanya mengambil tontonannya saja. Ini kita tidka bisa menyalahkan begitu saja. Adanya Erosi budaya disebabkan oleh bayak faktor dari globalisasi, teknologi, sosial-ekonomi, dan pragmatis”, paparnya.

Paseduluran Jemparingan Langen Astro, Hafiz Priotomo biasa mengadakan gladhen (latihan) pada Rabu legi dan Selasa wage di Pakualaman. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next