Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Erosi budaya, anak muda semakin asing lupa jemparingan

Erosi budaya, anak muda semakin asing lupa jemparingan

Jogjakarta-KoPi|Salah satu rangkaian acara dari pameran DKV ISI Jogja mengadakan workshop Jemparingan Jawa di Benteng Vredeburg pukul 16.30 WIB.

Menurut pegiat Paseduluran Jemparingan Langen Astro, Hafiz Priotomo mengatakan jemparingan bagian kearifan lokal yang adi luhung. Tidak hanya menitikberatkan pada memanah saja namun kompleks melingkupi aspek budaya di baliknya.

“Jemparingan saat ini yang jadi bahasan tentang masalahnya, sejarah dan referensinya”, paparnya.

Jemparingan atau akrab dikenal dengan kegiatan pemanahan tradisi budaya semasa kerajaan Mataram. Semasa Mataram jemparingan menjadi hobi para keluarga kraton dan abdi dalem. Namun seiringnya perkembangan zaman telah bergeser yang bisa dinikmati oleh masyarakat secara umum.

Hafiz Priotomo mengkritik dewasa ini budaya semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Kondisi ini tidak serta merta menyalahkan anak muda yang buta budaya, kesalahan juga mengenai pada peran orang tua yang lalai meneruskan budaya yang ada.

“Budaya bisa menjadi dari tuntunan, tatanan dan tuntunan. Tetapi anak muda saat ini hanya mengambil tontonannya saja. Ini kita tidka bisa menyalahkan begitu saja. Adanya Erosi budaya disebabkan oleh bayak faktor dari globalisasi, teknologi, sosial-ekonomi, dan pragmatis”, paparnya.

Paseduluran Jemparingan Langen Astro, Hafiz Priotomo biasa mengadakan gladhen (latihan) pada Rabu legi dan Selasa wage di Pakualaman. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next