Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Dosen : Skripsi jangan "dipaksakan"

Dosen : Skripsi jangan "dipaksakan"

Jogjakarta-KoPi| Peryataan Mesristek, Muhammad Nasir mengenai skripsi bukan syarat mutlak kelulusan S1 mendapat respon beragam dari kalangan akademik. Selama ini memang beberapa universitas tidak meniscayakan skripsi sebagai syarat kelulusan melainkan opsional bagi mahasiswa.

Seperti yang dipaparkan oleh dosen ilmu politik UGM, Abdul Ghaffar Karim mengakui beberapa jurusan di universitas tertentu telah lama meniadakan skripsi.  Sementara kebijakan non skripsi sudah lama digarap oleh Fisipol UGM.

Ghaffar menambahkan kebijakan skripsi selama ini terlalu bernilai akademis. Padahal di lapangan tidak semua mahasiswa memiliki minat dan kemampuan untuk melakukam analisis akademik mendalam dalam skripsi.

“Bagus (skripsi), bagi mahasiswa yang ingin melakukan analisis akademik secara lebih mendalam atas sebuah isu. Masalahnya, ada yang kemampuannya bagus di advokasi, atau dalam aksi langsung menyelesaikan masalah. Maka kita perlu beri peluang bagi mereka untuk memilih tugas akhir yang sesuai dengan minatnya. Selama ini jadi dipaksakan, semua mahasiswa menulis skripsi yang harus akademis”, papar Ghaffar.

Sementara Koordinator Kopertis V Jogjakarta, Bambang Supriyadi memandang skripsi masih penting menjadi syarat kelulusan S1. Adanya pilihan opsional seperti pengabdian masyarakat harus berdampak besar sebagai pengganti skripsi.

“Skripsi itu pemahaman secara komprehensif dalam suatu topik, meneliti masalah dengan metodolgi dalam rangka menjawab masalah tersebut dalam satu analisis. Jika perguruan tinggi menetapkan tidak membuat skripsi harus ada pengganti dengan bentuk tugas yang punya dampak besar”, papar Bambang.

Bambang menambahkan universitas jangan larut dalam phobia plagiasi sehingga meniadakan skripsi. Hal itu tidak menyelesaikan masalah karena tidak ada tindak lanjutnya dari solusi plagiasi. Di sisi lain skripsi mempunyai subtansi ilmiah memecahkan problem tertentu.  |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next