Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Dosen : Skripsi jangan "dipaksakan"

Dosen : Skripsi jangan "dipaksakan"

Jogjakarta-KoPi| Peryataan Mesristek, Muhammad Nasir mengenai skripsi bukan syarat mutlak kelulusan S1 mendapat respon beragam dari kalangan akademik. Selama ini memang beberapa universitas tidak meniscayakan skripsi sebagai syarat kelulusan melainkan opsional bagi mahasiswa.

Seperti yang dipaparkan oleh dosen ilmu politik UGM, Abdul Ghaffar Karim mengakui beberapa jurusan di universitas tertentu telah lama meniadakan skripsi.  Sementara kebijakan non skripsi sudah lama digarap oleh Fisipol UGM.

Ghaffar menambahkan kebijakan skripsi selama ini terlalu bernilai akademis. Padahal di lapangan tidak semua mahasiswa memiliki minat dan kemampuan untuk melakukam analisis akademik mendalam dalam skripsi.

“Bagus (skripsi), bagi mahasiswa yang ingin melakukan analisis akademik secara lebih mendalam atas sebuah isu. Masalahnya, ada yang kemampuannya bagus di advokasi, atau dalam aksi langsung menyelesaikan masalah. Maka kita perlu beri peluang bagi mereka untuk memilih tugas akhir yang sesuai dengan minatnya. Selama ini jadi dipaksakan, semua mahasiswa menulis skripsi yang harus akademis”, papar Ghaffar.

Sementara Koordinator Kopertis V Jogjakarta, Bambang Supriyadi memandang skripsi masih penting menjadi syarat kelulusan S1. Adanya pilihan opsional seperti pengabdian masyarakat harus berdampak besar sebagai pengganti skripsi.

“Skripsi itu pemahaman secara komprehensif dalam suatu topik, meneliti masalah dengan metodolgi dalam rangka menjawab masalah tersebut dalam satu analisis. Jika perguruan tinggi menetapkan tidak membuat skripsi harus ada pengganti dengan bentuk tugas yang punya dampak besar”, papar Bambang.

Bambang menambahkan universitas jangan larut dalam phobia plagiasi sehingga meniadakan skripsi. Hal itu tidak menyelesaikan masalah karena tidak ada tindak lanjutnya dari solusi plagiasi. Di sisi lain skripsi mempunyai subtansi ilmiah memecahkan problem tertentu.  |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next