Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Dinas Peternakan: Penjualan daging celeng tidak masalah

Dinas Peternakan: Penjualan daging celeng tidak masalah
Surabaya - KoPi | Dinas Peternakan Jatim akhirnya merespon kasus beredarnya daging celeng alias babi hutan di pasaran Jawa Timur. Dinas Peternakan mengatakan penjualan daging celeng sebenarnya tidak masalah. Namun pencampuran daging celeng dengan daging sapi adalah merupakan tindak kriminal. Karena itu Dinas Peternakan mengimbau agar pedagang untuk tak mencampur antar daging.
 

“Kalau jual terpisah, misalnya daging celeng dijual terpisah itu boleh, tapi kalau dicampur itu yang dilarang,” ujar Kabid Kesmavet Dinas Peternakan jatim, Kusnoto.

Lain lagi untuk untuk peredaran daging celeng yang sedang ramai diberitakan beberapa hari ini merupakan illegal dan termasuk modus kriminal penipuan. “Dikatakan illegal karena tidak memenuhi syarat administrasi. Daging celeng atau babi hutan itu juga ada tata niaga peredarannya. Ada izin dan syarat yang harus dipenuhi dan dipotong di RPH (rumah potong hewan) khusus. Daging celeng yang beredar ini ilegal karena masuk tanpa izin,” kata 

Mengapa disebut penipuan? Kusnoto mengatakan pengedar daging celeng mencampurmua dengan daging sapi impor. “Modus penipuannya ini adalah mengkamuflasekan daging sapi impor dimix dengan daging celeng. Untuk salad daging dari mana, kami belum tahu dan ini masih dalam proses penyidikan polisi,” katanya.

Ia menambahkan, oknum tersebut mengedarkan daging celeng campur daging sapi impor karena adanya perbedaan harga. “Perbedaan harga mencapai Rp 20-25 ribu per kilogram. Karena daging babi hutan atau celeng lebih murah, maka dengan mencampur dengan daging sapi diharapkan para pelaku kejahatan itu mendapatkan keuntungan,” ungkapnya.

Kusnoto mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik setelah ramai pemberitaan beredarnya daging celeng tersebut. Pasalnya polisi mengamankan sejumlah kemasan daging sapi yang bercampur daging celeng. Daging celeng yang beredar itu sudah diamankan polisi dan selebihnya kini sudah cukup aman. Disnak juga meminta kepolisian melakukan pengusutan, dan pihaknya juga telah membentuk tim untuk memantau peredaran daging di lapangan.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next