Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Difabel menggugat kuota khusus Seleksi Aparat Negara

Difabel menggugat  kuota khusus Seleksi Aparat Negara

Siaran Perss


Kelompok difabel yang tergabung dalam organisasi Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI), Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB), dan Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA) bermaksud menyelenggarakan konferensi pers untuk menyuarakan suara kaum difabilitas terkait dengan kuota khusus seleksi ASN untuk kaum difabel.

Konferensi pers tersebut akan kami selenggarakan pada hari Jum’at, 3 Oktober 2014 bertempat di secretariat SIGAB, Jl. Wonosari KM 8, Gamelan, Sendang Tirto, Berbah, Sleman, pukul 14.00 WIB.

Pada tahun 2014,  pemerintah membuka pendaftaran seleksi aparat sipil negara (ASN)  dimana pada tahun ini tersedia 100,000 lowongan bagi masyarakat Indonesia. Hal ini tentu disambut antusias oleh masyarakat Indonesia, tak terkecuali kaum difabel. Sebab, pelaksanaan ASN tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan tersebut terletak pada aspek kesempatan khusus bagi kaum difabel dan juga pada teknis pelaksanaan ujiannya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang kuotanya diberikan kepada difabel pada formasi dan kualifikasi tertentu, tahun ini formasinya lebih terbuka bagi difabel. Hal ini tentu perlu mendapatkan apresiasi, tetapi masih saja ada kebijakan yang tidak diimplementasikan oleh pemerintah sendiri, di antaranya:

1.    Jumlah kuota yang masih belum memenuhi angka 1persen sebagaimana yang telah diamanatkan pada UU no 4 tahun 1997 tentang penyandang Cacat. Jika merujuk pada UU tersebut, maka bagi perusahaan atau instansi yang mempekerjakan minimal 100 kariawan maka 1% diantaranya haruslah kaum difabel. Ini artinya dengan jumlah lowongan sebesar 100,000 maka pemerintah seharusnya menyediakan 1,000 kuota khusus untuk kaum difabel. Sedangkan saat ini, kuota yang disediakan oleh pemerintah baru sejumlah 300.

2.    Dari kuota 300 tersebut, hanya difabel netra, rungu-wicara, dan daksa yang terakodir, sedangkan jenis difabilitas lainnya seperti celebral palcy (CP), autis, difabel grahita, difabel laras, dan sebagainya masih belum terakomodir.

3.    Adanya qualifikasi yang tidak relefan dengan kaum difabel. Hal ini bias kita lihat pada beberapa qualifikasi yang tersedia, misalnya D3 PLB (pendidikan luar biasa), karena D3 PLB sejak tahun 1999 telah dihapuskan. Selain itu, mayoritas kampus di Indonesia selalu menolak difabel ketika hendak mengikuti program pendidikan D3dengan alas an bahwa program D3 banyak menggunakan metode praktek dalam proses pembelajaran sehingga akan menyulitkan.

4.    Sistem pelaksanaan ujian yang pada kesempatan kali ini menggunakan system computer Assisted test (CAT). Hal ini sangat merisaukan kaum difabilitas netra didasarkan pada beberapa pertimbangan:

·    Sudahkah aplikasi CAT ini didesain aksesibel bagi program pembaca layar?
·    Apakah computer yang digunakan pada pelaksanaan seleksi ASN sudah dilengkapi dengan aksesibilitas yang mewadahi?
·    Berapakah jumlah personal Assistance atau pendamping khusus yang disediakan oleh panitia untuk mendampingi kaum difabel?
·    Sudahkah pendamping khusus yang disediakan representative dan dapat melaksanakan tugasnya secara rpofesional?

5.    Dalam hal pendamping yang disediakan oleh pemerintah, sesuai dengan pengalaman yang terjadi pada CPNS 2013 di Yogyakarta, terjadi hal yang sangat merugikan bagi difabel. Pada waktu itu, pendamping khusus yang bertugas untuk mendampingi difabel netra terlambat dating di tempat ujian, sedangkan waktu ujian untuk difabel disamakan dengan waktu untuk regular.

Oleh: SIGAB

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next