Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Desain “Mlampah-Mlampah” : Relijiusitas Malioboro

Desain “Mlampah-Mlampah” : Relijiusitas Malioboro

Yogyakarta-KoPi, Lima tim terbaik Sayembara Penataan Kawasan Malioboro Tahun 2014 mempresentasikan karyanya di 11.00 Gedung Gadri Komplek Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta 9 Juni 2014  pukul 11.00  Wib.

Masing-masing tim diberi kesempatan 20 menit untuk mempresentasikan karyanya. Acara bersifat tertutup untuk media. Publikasi karya dilaksanakan besok Selasa (10/6) pukul 09.00, kemungkinan di lokasi yang sama.


Salah satu tim terbaik asal Universitas Parahyangan, Bandung, Tim Mlampah-Mlampah menjelaskan konsep marketnya. Kota Yogyakarta dengan “jantung” Malioboro didesain menjadi Kota Techno Polis. Arus perkembangan zaman tidak serta merta membuat Malioboro stagnant atas nama menjaga budaya. Namun bagaimna caranya mendesain kawasan Malioboro tetap dinamis tanpa menanggalkan entitas sebagai kota budaya.

Tim yang beranggotakan Richard, Uki, Jati, Grady dan Rahadian ini menawarkan konsep desentralisai. Seperti gambar lingkaran di bawah ini, upaya mengontrol kemacetan arus kendaraan dengan pembatasan.



“ Sebenarnya pada konsep kesucian dengan kraton sebagai muaranya. Daerah Margo Utomo kita bikin jogja kota technopolis sampai stasiun Tugu. Stasiun Tugu jadi daerah bebas kendaraan karena hampir semua negera maju di dunia tidak menjadikan areal depan stasiun sebagai lahan parkir”, ucap Richard.

Re-desain jalan Margo Utomo bentuk dialog antara tradisi dan pluralisme. Menampilkan esensi sejarah Tugu Jogja dengan di buka untuk diakses, misal untuk foto-foto.

Konsep “Mlampah-Mlampah” ini perjalanan spiritual Yogyakarta dimana pengunjung tidak hanya asyik berbelanja namun juga bisa menikmati “sejarah” dari arsitektur tata kotanya.

Reporter : Winda Efanur F

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next