Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Desain “Mlampah-Mlampah” : Relijiusitas Malioboro

Desain “Mlampah-Mlampah” : Relijiusitas Malioboro

Yogyakarta-KoPi, Lima tim terbaik Sayembara Penataan Kawasan Malioboro Tahun 2014 mempresentasikan karyanya di 11.00 Gedung Gadri Komplek Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta 9 Juni 2014  pukul 11.00  Wib.

Masing-masing tim diberi kesempatan 20 menit untuk mempresentasikan karyanya. Acara bersifat tertutup untuk media. Publikasi karya dilaksanakan besok Selasa (10/6) pukul 09.00, kemungkinan di lokasi yang sama.


Salah satu tim terbaik asal Universitas Parahyangan, Bandung, Tim Mlampah-Mlampah menjelaskan konsep marketnya. Kota Yogyakarta dengan “jantung” Malioboro didesain menjadi Kota Techno Polis. Arus perkembangan zaman tidak serta merta membuat Malioboro stagnant atas nama menjaga budaya. Namun bagaimna caranya mendesain kawasan Malioboro tetap dinamis tanpa menanggalkan entitas sebagai kota budaya.

Tim yang beranggotakan Richard, Uki, Jati, Grady dan Rahadian ini menawarkan konsep desentralisai. Seperti gambar lingkaran di bawah ini, upaya mengontrol kemacetan arus kendaraan dengan pembatasan.



“ Sebenarnya pada konsep kesucian dengan kraton sebagai muaranya. Daerah Margo Utomo kita bikin jogja kota technopolis sampai stasiun Tugu. Stasiun Tugu jadi daerah bebas kendaraan karena hampir semua negera maju di dunia tidak menjadikan areal depan stasiun sebagai lahan parkir”, ucap Richard.

Re-desain jalan Margo Utomo bentuk dialog antara tradisi dan pluralisme. Menampilkan esensi sejarah Tugu Jogja dengan di buka untuk diakses, misal untuk foto-foto.

Konsep “Mlampah-Mlampah” ini perjalanan spiritual Yogyakarta dimana pengunjung tidak hanya asyik berbelanja namun juga bisa menikmati “sejarah” dari arsitektur tata kotanya.

Reporter : Winda Efanur F

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next