Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Budaya bisa dikelola?

Budaya bisa dikelola?

Yogyakarta-KoPi-  Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada (KBM SPs. UGM) bekerjasama dengan Yayasan Umar Kayam  (YUK), Yayasan Biennale Jogja, Koalisi Seni Jakarta dan Yayasan Desantara menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk "Tata Kelola Kebudayaan sebagai Bentuk Strategi Kebudayaan?".

Seminar berlangsung hari Kamis, 9 Oktober 2014 bertempat di Ruang Seminar Lt. 5 Gedung Sekolah Pascasasrjana UGM.  Acara ini secara konkret membahas draft RUU Kebudayaan. Enam pembicara hadir dalam seminar, Bambang Sunaryo, MSi (Fisipol UGM), Dadang Juliantara (Seknas Jokowi-JK), Dr. Hilmar Farid (Institut Sejarah Sosial Indonesia, Jakarta), Enin Supriyanto (kurator, Jakarta), Hanidawan (aktvis teater, Solo) dan M. Nurkhoiron (yayasan Desantara, Jakarta). Moderator Abduh Aziz (Koalisi Seni Indonesia) dan Kris Budiman (Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM).

Dalam seminar ini ada dua tujuan yang ingin dicapai, pertama, memahani tentang stratergi kebudayaan yang tidak melulu dipahami semata pada perkara estetika dan warisan-warisan tradisi yang sementara banyak dipahami keliru oleh kalangan birokrasi dan masyarakat umum. Stratergi kebudayaan di sini menjadi kesadaran bersama bahwa ada nilai-nilai yang terus berkembang dalam sebuah masyarakat bangsa. Untuk itu sebagai entitas kolektif bangsa harus memiliki 'common platform."

Kedua, stratergi kebudayaan adalah kesadaran yang niscaya harus hadir mengingat bahwa ada realitas persinggungan budaya lokal dan dunia luar yang pada hakekatnya mampu memberikan ancaman terhadap eksitensi kebudayaan 'asli' atau pokok bangsa. Realitas inilah yang kemudian relevan dengan kebutuhan startergi kebudayaan. Pertanyaannya kemdian, apakah negara harus dan memiliki tanggug jawab dalam mengelola kebudayaan? Lalu bagaimana kebudayaan yang menrupakan nilai-nilai yang beragam dan bersaing dapt ditata dalam sebuah pernagkat hukum yang mengikat semua warga bangsa?


Isi makalah dapat dibaca di Rubrik Antitesis KoranOpini.com. Enam pemikiran RUU Kebudayaan di Seminar KBM UGM.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next