Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Belajar kekompakan ke 'Gatot-Tiwul'

Belajar kekompakan ke 'Gatot-Tiwul'

Jogjakarta-KoPi| Masyarakat kini semakin melupakan nilai-nilai kearifan lokal. Apalagi kalangan remaja yang lebih akrab dengan dunia instan dan gadget. Fenomena itulah yang melatarbelakangi mahasiswa ISI jurusan Komunikasi Visual mengadakan pameran menghidupkan kembali kearifan lokal agar akrab dengan masyarakat sekarang.

Menurut ketua panitia Iqbal Alditio menagataka acara bertajuk pameran DKV ini awalnya tugas kuliah. Namun para mahasiswa sangat antusias menjadikannya acara mengkampnyekan kearifan lokal yang hampir luput dari kehidupan masyarakat.

“ Temanya tentang kearifan lokal, itu ada mocopat, mitoni, juga kuliner. Di sini ada 17 stand. Sebelum pameran kami, juga melakukan riset, ada yang ke kraton sampai ke Gunung Kidul, mencari permasalahnnya apa untuk dicari solusinya”, kata Iqbal.

Pameran DKV berlangsung di benteng Vredebug berlangsung selama empat hari sejak tanggal 1-4 Juni 2015. Pameran buka dari jam 08.00-21.00 WIB. Antusias pengunjung luar biasa  terlihat saat pembukaan pengunjung mencapai 1000 orang dari berbagai usia.


Stand Gatot Tiwul
Salah satu stand “Gatot Tiwul” di pameran DKV menyajikan produk ‘Gatot Tiwul’ makanan tradisional Jawa. Makanan gatot tiwul pernah menjadi makanan pokok nusantara saat masa penjajahan dahulu, namun setelah masa modern dengan adanya peredaran beras masyarakat beralih dengan mengkonsumsi beras.

Menurut salah satu tim Gatot Tiwul Annisa menuturkan gatot tiwul mengenalkan kembali makanan tradisional Indonesia dari kekayaan tanah Inodnesia. Selain itu gatot tiwul mempunyai filosofi Jawa.

“Gatot dalam bahasa jawa itu artinya gimbal tidak bisa tercerai berai, kan lengket ga bisa diuraikan, nah tiwul dari kata ‘setiti’ bahasa jawa artinya teliti , jadi gatot dan tiwul kalau digabungkan mereka bersatu. Tidak bisa tercerai berai”, kata Annisa.
Dalam konteks kekinian gatot tiwul mengandug nilai kebersamaan dan kekompakan. Sebagai maskot tim gatoto tiwul mengambil maskot semut yang melambangkan kebersamaan. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next