Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Banyak hotel di Jogja tak punya lahan parkir

nul.is nul.is

Yogyakarta-KoPi| Menurut data tahun 2013 (Tribunnews), jumlah hotel di Yogyakarta mencapai 1.160. Jumlah tersebut belum termasuk data hotel yang memiliki IMB. Sedangkan data dari Dinas Perijinan Kota Yogyakarta hingga tutup buku 2014 ini telah mengeluarkan 1.100 IMB.

Menjamurnya hotel di Yogyakarta merupakan angin positif untuk pertumbuhan investasi. Nah, dengan tumbuh suburnya hotel ini membawa banyak dampak. Bagi pengamat layanan publik UGM Prof. Agus Pramusinto kehadiran hotel membawa dilematis.

“Saya tidak menolak hotel tapi yang perlu dipertimbagkan, hotel yang dibangun tidak mengganggu lalu lintas, soalnya banyak hotel yang tidak memiliki lahan parkir. Selain itu hotel juga banyak menggusur lahan. Di sinilah peran instansi perijinan bermain. Pihak dinas memang harus mempermudah perijinan tapi di sisi lain, dinas juga sebagai kontrol”, jelasnya.

Tambahan juga disampaikan oleh pengamat kebijakan publik UGM, DR. Ely Santoso, “Semua pembangunan di Yogyakarta harus kembali lagi pada plan tata kota Yogyakarta yang telah dibuat. Jangan sampai pembangunan hotel atau bangunan lainnya keluar dari roh Jogja sendiri”, sarannya.

Mengenai hal ini posisi dinas tetap berada pada peraturan yang berlaku. Hotel memang banyak menadatangkan tamu. Pendiriannya melalui beberapa tahap. Pertama memiliki advis planning tentang informasi tentang tata ruang kota, misal ke birokrasi A menyetujui pembangunannya.

“Kalau tata ruangnya di daerah perdagangan dan jasa boleh. Tetapi kalau tata ruangnya di daerah perumahan didirikan hotel butuh pertimbangan lagi. Selain itu juga ada pertimbangan dampak lingkungan yang mendapatkan rekomendasi dari BLH (Badan Lingkungan Hidup), jelas kepala bidang pelayanan Dinas Perijinan Kota Yogyakarta, Setiono. |Winda Efanur FS|

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next