Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Ayip Rosidi kembalikan penghargaan Habibie Center

Ayip Rosidi kembalikan penghargaan Habibie Center

Budayawan Ajip Rosidi mengembalikan Habibie Award berupa uang dan piagam ke Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM-IPTEK), Habibie Center. Penghargaan yang diterimanya pada 2009 bidang kebudayaan ini pun dikembalikan melalui Satpam Habibie Center, Tri Susilo pada Kamis siang (26/5).

“Tidak ada yang mau menerima dan jadinya saya titip ke satpam,” kata Ajip saat jumpa pers di Pusat Dokumentasi Sejarah (PDS) H.B Jassin Jakarta, kamis (26/5).

Sebelumnya, Ajip mengaku telah membuat janji dengan Ketua Yayasan SDM Iptek Habibie Center, Wardiman Djojonegoro. Namun sayangnya, orang yang dimaksud tidak ada di tempat.

Pada dasarnya, Ajip merasa bangga terhadap BJ Habibie yang setiap tahun acap memberikan Habibie Award kepada para ilmuwan, seniman, dan budayawan. Terlebih saat dirinya dinobatkan sebagai penerima pada 2009 di bidang kebudayaan.

Akan tetapi rasa kebanggaan ini beralih kekecewaan saat tim juri memberikan award kepada Prof Nina Lubis pada 2015. Ajip menilai, sosok Nina bukan orang tepat yang mendapatkan penghargaan tinggi tersebut. Sebab, Nina telah melakukan berbagai tindakan plagiat atas buku-buku yang pernah dibuatnya.

Contohnya, buku Negarawan dari Desa Cinta yang pada dasarnya karya dari mahasiswa bimbingannya, Elly Maryam. Elly Maryam dari Universitas Padjadjaran (Unpad) ini menulis skripsi Peranan dan Pemikiran Mohammad Sanusi Hardjadinata dalam Politik di Indonesia (1945-1985) pada 2003. Tidak ada nama mahasiswa tersebut pada buku yang ditulis atas nama Nina ini.

Tidak hanya berhenti di sini, Nina pun juga telah melakukan hal sama dalam penulisan bahan tentang KH Nur Ali. Ajip juga menerangkan, Nina telah meringkas habis-habisan roman karya Pramoedya tentang Tirto Adhi Soerjo untuk dijadikan tulisannya.

Bahkan, ia melanjutkan, informasinya Nina selalu berkirim surat ke pemerintah daerah untuk proyek penulisan buku tentang pahlawan yang ingin ditetapkan secara nasional. “Dia nulis bukunya sangat sembrono,” tegas Ajip.

Habibie merupakan sosok luar biasa yang sangat patut dibanggakan. Karena kasus ini, niat baik BJ Habibie yang begitu mulia pun telah dimanfaatkan oleh kepentingan pribadi. “Habibie award telah kecolongan,” jelas Ajip. |Republika

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next