Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Alasan nuklir energi pilihan terakhir Indonesia

Alasan nuklir energi pilihan terakhir Indonesia

Jogjakarta-KoPi|  Penggunaan energi nuklir sebagai tenaga listrik masih menjadi perdebatan sengit di kalangan masyarakat. Nuklir diharapkan dapat mengantisipasi kapasitas energi fosil yang kian menipis. Perkiraan energi fosil hanya mampu menopang kebutuhan energi Indonesia hingga beberapa puluh tahun ke depan.

 

Menurut anggota dewan energi nasional Prof. DR. Rinaldy Dalimi menegaskan Indonesia memang harus menguasai teknologi nuklir. Melalui sekolah nuklir BATAN, telah banyak manfaat nuklir untuk kehidupan seperti kesehatan, teknologi pertanian dan energi listrik. Namun Prof. Rinaldi masih meragukan pemanfaatna nukllir sebagai energi listrik mengingat posisi Indonesia masih negara berkembang.

“ Uranium bahan dasar PLTN itu akan dihabis. Penelitian 170 tahun uranium juga masih dipertanyakan kapasitasnya berapa? Sementara Indonesia tidak mempunyai uranium. Nanti bila membangun kita impor uranium dan tidak tahu kemana mengimpornya”, papar Prof. Rinaldi dalam seminar “Keterbukaan Informasi Publik Terhadap Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di perpustakaan UGM.

Prof.Rinaldi selaku anggota dewan energi nasional tegas menetapkan energi nuklir sebagai pilihan terakhir ketika energi terbarukan lainnya sudah tidak ada lagi.

Sementara pakar turbin LSM Marem, Lilo sunaryo, Ph. D mengapresiasi niat baik BATAN mengambangkan PLTN. Hal ini tidak terlepas dari program pemerintah meningkatkan listrik hingga 10.000 MW meskipun hanya tercapai 7.000 MW.

Senada dengan Prof. Rinaldi, Lilo juga menempatkan pengembangan nuklir untuk pilihan terakhir mengingat bencana yang terjadi akibat nuklir. Lilo menghimbau pemerintah untuk berpikir ulang menerapkan PLTN. Pasalnya mencermati negara pengguna nuklir seperti AS, Ukraina dan Jepang telah terjadi kecelakaan nuklir.

“ Negara maju telah terjadi kematian manusia, luka-luka dan cacat permanen serta kerusakan alam sekitar ”, papar Lilo.

Para pakar masih meragukan kemampuan Indonesia khususnya BATAN mendirikan PLTN. PLTN fusi yang telah digembar-gemborkan kini juga tender dengan Rusia. Hal ini semakin memparah ketergantungan Indonesia kepada negara lain.

Di sisi lain kepala BATAN Jogja, Susilo Widodo memepertegas BATAN tengah melakukan penelitian keamanan nuklir generasi empat yang konon lebih aman dari generasi dua. Kecelakaan generasi kedua di Fukushima, Jepang patutnya menjadi penyempurnaan teknologi nuklir. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next