Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

AJI : Kepentingan pemilik modal media mainstream salah satu faktor penyebar hoax

AJI : Kepentingan pemilik modal media mainstream salah satu faktor penyebar hoax

"Kepentingan yang dimiliki pemilik media dalam membuat berita menyebabkan masyarakat tidak percaya lagi pada media. Media dianggap menjadi alat propaganda dimana kebenaran berada di pihak tertentu." Demikian Suwarjono, Ketua AJI mengatakan dalam sesi diskusi di Bulaksumur, University Club, UGM pada Sabtu, 4 Februari 2017.

Sleman-KoPi| Aliansi Jurnalis Independen(AJI) melawan hoax dengan cara melakukan pengawasan konten berita, pengawasan situs media yang mirip atau buatan robot, serta pengawasan berita yang mendorong rasionalitas, hingga tindakan yang mengarah ke regulasi pemblokiran. 

Beberapa pengawasan serta tindakan yang mengarah pada regulasi pemblokiran yang dilakukan dalam pelaksanaanya juga perlu diawasi. Ini dikarenakan pemblokiran ini juga menghalangi hak kebebasan berekspresi, sehingga kekritisan dalam menanggapi persoalan akan dibungkam beralaskan hoax. Untuk itu AJI menghimbau kepada semua media untuk bersama-sama melawan hoax.

"Media harus bersama-sama melawan hoax seperti dengan menampilkan konten news yang benar," kata Suwarjono.

"Dalam kode etik, media harus ada fakta, kepastian, dan faktual. Selama itu tidak ada dalam media, maka media tersebut perlu digarisbawahi sebagai media abal-abal, kenapa ditekankan? Karena media adalah jalan terakhir masyarakat untuk memverifikasi informasi," tambahnya.

Penyebab hoax

Suwarjono mengatakan terdapat tiga hal yang mendorong terjadinya hoax, yaitu pertumbuhan internet yang pesat tanpa adanya literasi media internet, perubahan perilaku pembaca konvensional ke digital, serta delegetimasi (ketidakpercayaan) masyarakat dengan media mainstream.

Berdasarkan riset AJI yang rilis pada tahun 2017 terdapat sekitar 132 juta pengguna internet dengan pertumbuhan mencapai 51% yang tidak diimbangi dengan literasi penggunaan internet yang baik.

Suwarjono menjelaskan bahwa dengan tidak adanya literasi penggunaan internet yang baik dapat menimbulkan euforia atau kesenangan untuk menyebarkan informasi tanpa memverifikasi, dan mengecek kebenarannya sehingga menimbulkan hoax.

Kemudian, faktor kedua yang menjadi pendorong timbulnya hoax menurut Suwarjono adalah perubahan perilaku pembaca yang tadinya merupakan pembaca konvensional menjadi pembaca digital juga berperan dalam munculnya hoax.

"Kecendrungan era juga mempengaruhi, seperti orang-orang lebih memilih membaca berita atau informasi digital dibanding konvensional," jelasnya.

Di sisi lain, delegetimasi (ketidakpercayaan) masyarakat dengan media mainstream menjadi penyebab terbesar terjadinya hoax. Suwarjono mengungkapkan kepentingan pemilik media dalam membuat berita membuat masyarakat tidak percaya lagi pada media.

 "Kepentingan yang dimiliki pemilik media dalam membuat berita menyebabkan masyarakat tidak percaya lagi pada media. Media dianggap menjadi alat propaganda dimana kebenaran berada di pihak tertentu," jelasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

 

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next