Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Adelia pasien cangkok hati pertama, masih butuh banyak donasi

Adelia pasien cangkok hati pertama, masih butuh banyak donasi

Jogjakarta-KoPi| RSUP Sardjito untuk pertama kalinya akan melakukan operasi tranplantasi hati di Jogjakarta. Operasi tranplantasi ini rencananya akan bekerjasama dengan universitas Kyoto, Jepang September mendatang. Progres kedokteran ini disambut bahagia oleh pasangan suami istri Dwi Parwati (33) dan Cahyo Kastaman (33). Pasalnya balita mungil Adelia Dwi Cahyo akan menjadi pasien pertama yang akan dioperasi transplantasi hati. Adelia mendapat donor hati dari sang ibu, Dwi Parwati.

Sebelumnya sejak November 2014 lalu, Adelia didiagnosis menderita atresia bilier semacam penyumbatan pada saluran yang membawa cairan empedu dari hati ke kandung empedu. Atresia bilier terjadi membuat saluran empedu tidak bekerja dengan normal. 

“Awalnya kita tidak tahu kenapa, Adelia kalo pipisnya kuning dan tinjanya putih, terus perutnya kembung, kita tidak tahu dia ada masalah dengan empedunya, akhirnya dibawa ke Sardjito”, ungkap Dwi Parwati.

Sementara menurut dr. Akhmad Makhmudi selaku operator operasi sangat mendukung berjalannya operasi ini untuk kemajuan kedokteran di Indonesia. Di sisi lain dr. Akhmad memaparkan keberhasilan operasi cangkok hati sebesar 70%. 

“Operasi akan memakan waktu selama sembilan jam, resiko ini bisa terjadi pembocoran, tapi bisa diantisipasi dengan teknologi microsoft untu memantaunya. Kendala lain butuh banyak tranfusi darah, untuk resiko pendarahan. Kita sudah menyiapkan semuanya, bila terjadi rejeksi (penolakan), ada dengan obat-obatan,” papar dr. Akhmad Makhmudi.

Meskipun tampak berjalan lancar namun pihak RSUP Sardjito masih terkendala dana untuk operasi cangkok hati. Operasi tranplantasi membutuhkan biaya sebesar 1,5 miliar, sementara biaya dari asuransi sebesar 250 juta.

“Biaya satu anak untuk operasi 1,5 miliar, ini kita dapat dari BPJS maksimal 250 juta masih kurang banyak, maka dari itu kita mengharapkan donasi masyarakat yang bisa dikirim ke rekening RSUP Sardjito,” papar dr. Heru saat konferensi pers di RSUP. Sardjito pukul 17.00 WIB.

Secara terpisah Dwi Parwati (33) juga sangat berharap agar biaya dapat terpenuhi demi kelangsungan hidup anak semata wayangnya. “Kami dibantu BPJS, paling bisa 250 juta, bisa tidak ya, kami berharap bantuan masyarakat," papar Dwi. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next