Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Susi kuatir Indonesia cuma jadi pasar saja

www.exportmontana.com www.exportmontana.com

Jakarta-KoPi| Kali ini, Susi Pudjiastuti menguatirkan Indonesia hanya sekedar menjadi pasar Internasional, karena padatnya penduduk dan ketidaksiapannya. Ia merasa akan ketinggalan dengan negara tetangga dalam memperebutkan pasar internasional dan hanya menjadi pasar bila para ahli hanya berkutat pada berbagai kajian yang terus pro kontra. Pelaku usaha, menurutnya, butuh tindakan nyata, bukan hanya kajian.

"Kalau mau Indonesia lebih kuat di Pasar Internasional, We have to follow our Neighbour. Stop untuk kajian undang undang ini itu. Just adopt what out Neighbour doing. To be Early, To be there faster than we should Kalau kita mau bahas lagi, mengkaji lagi, Ini Pro, Ini Kontra. Single Market is there. Where are we? ." Tegasnya dalam akun FB resminya (28/11).

Susi Pudjiastuti kuatir, mengingat jumlah penduduk Indonesia begitu besar mencapai 250 juta, tetapi tidak memproduksi apa-apa.
"Kita hanya dijadikan pasar saja. Tiongkok masuk ke myanmar. Malaysia masuk ke mari. Kita sedang adanya lembaga keuangan mau memfinancing tapi disatu sisi kita harus mempersiapkan Environment- nya..

Di malaysia, disana Pihak yangg berusaha atau menanamkan modalnya di sektor Perikanan mendapatkan intensif menarik. Hal ini belum dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan berbagai pihak terkait..Di Malaysia, kita mau usaha perikanan itu nomor satu, mereka bikin tulisan advertising.Kedua, Free of any tax seven to twelve years. Lantas kredit untuk Perikanan only 3 Persen.

Indonesia, mau bibit, harus daftar terus bayar. Ada fee, izin prinsip 0,5 persen, itu resmi.

Kemudian IMB, ada per square meter. Lalu ada final tax PPN. Kalau membangun sendiri 4,5 Persen. Kalau pakai Kontraktor 10 persen, Kita impor mesin. Mesinnya di Bea cukai musti bayar PPh 22. Kemudian kredit at least 10 sampai 12 persen. Kalau indonesia mau kuat, lebih baik ikuti Negara tetangga.."

Pemikiran Susi Pudjiastuti ini sepertinya selaras dengan sajak karya WS Rendra. Sajak Sebatang Lisong:

......Kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
Diktat – diktat hanya boleh memberi metode
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
Kita mesti keluar ke jalan raya
Keluar ke desa – desa
Mencatat sendiri semua gejala
Dan menghayati persoalan yang nyata

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat
Apakah artinya kesenian
Bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
Bila terpisah dari masalah kehidupan

back to top