Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Kupang-KoPi | Pemerintah Australia Selasa kemarin (15/5) telah memulangkan Efraim Radja, nelayan asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang disebut petugas Australia atas tuduhan pencurian ikan.

 

"Efraim sudah tiba di Bali dan hari ini dipulangkan ke Kupang dengan menggunakan pesawat Lion Air dari Denpasar," kata Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT Muhammad Saleh Goro saat dihubungi di Kupang, ditulis Rabu (16/5)

Ia mengemukakan hal itu berkaitan dengan nasib 13 nelayan atau anak buah kapal (ABK) Indonesia termasuk Efraim, yang ditangkap petugas keamanan Australia pada 18 April 2018.

Menurutnya, ada lima nelayan yang dipulangkan Pemerintah Australia dari 13 orang yang diamankan petugas perairan negara itu.

Empat nelayan/ABK lainnya akan dipulangkan kembali ke daerah asal mereka yakni di Sapeken, Madura. Keempat nelayan itu adalah Wahyudi, Heri, Sapari dan Rasyidi Rahman.Sebanyak lima nelayan/ABK ini dipulangkan setelah menjalani proses pemeriksaan oleh pemerintah negara itu. Sementara delapan nelayan lainnya akan menyusul setelah menjalani proses peradilan di negara tetangga itu, katanya.

Sebagaimana diberitakan,penangkapan 13 nelayan Indonesia asal Nusa Tenggara Timur dan Sumenep, Jawa Timur, oleh otoritas keamanan Australia pada Rabu, 18 April 2018 mendapatkan protes keras dari pemerhati masalah Laut Timor Ferdi Tanoni yang mengecam tindakan Pemerintah Australia. “Penangkapan nelayan Indonesia di Laut Timor oleh Australia merupakan sebuah tindakan ilegal yang harus dihentikan oleh pemerintah pusat”.

“Zona Perikanan Australia yang dijadikan dasar penangkapan para nelayan tersebut diklaim secara sepihak oleh Australia yang kemudian menjadikannya sebagai ZEE Australia," kata mantan agen imigrasi Australia itu di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat, 11 Mei 2018.

Australia kemudian menjadikan klaim sepihak tersebut sebagai Perjanjian RI-Australia tahun 1997 tentang Zona Ekonomi Eksklusif dan Batas-Batas Dasar Laut Tertentu yang hingga saat ini belum diratifikasi oleh parlemen kedua negara.

Tanoni menjelaskan Perjanjian RI-Australia tahun 1997 tersebut berisi 11 Pasal dan dengan tegas tertulis dalam pasal 11 bahwa "Perjanjian ini baru mulai berlaku pada saat pertukaran piagam-piagam ratifikasi kedua negara".

Namun, Australia kembali menggunakan perjanjian yang belum berlaku ini untuk memberangus para nelayan Indonesia yang beroperasi di Laut Timor.

Disisi lain, Jakarta masih terus berdiam diri tanpa ada langkah-langkah dalam memberikan perlindungan terhadap nelayan Indonesia yang menghasilkan manusiawi oleh Australia selama seribu tahun ini.

Tanoni yang juga penulis buku Skandal Laut Timor Sebuah Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta yang yang dihubungi secara luas untuk mengungkapkan dan mendorong Australia agar para nelayan yang ditangkap itu juga harus dipulangkan ke Indonesia.

"Jangan melihataknya saja sedang perahu-perahu nelayan tradisional Indonesia yang mencari nafkah di Laut Timor ini," ujar nya. 

back to top