Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Laut lestari, industri perikanan untung

Laut lestari, industri perikanan untung
Surabaya - KoPi | Meski telah diakui sebagai salah satu negara penghasil produk perikanan terbesar di dunia, industri perikanan Indonesia dianggap masih belum sepenuhnya mengusung konsep berkelanjutan (sustainable). Dampaknya, beberapa produk perikanan Indonesia kurang mampu menembus pasar global.
 

Karena itu, WWF-Indonesia mengadakan kampanye untuk mewujudkan industri perikanan berkelanjutan. Salah satunya dengan mengajak industri makanan untuk tergabung dalam program Seafood Savers.

Direktur Kebijakan, Keberlanjutan, dan Transformasi WWF-Indonesia, Budi Wardhana, Kamis (11/6) mengatakan, perusahaan yang menjadi anggota Seafood Savers harus memenuhi beberapa langkah perbaikan. Hal tersebut untuk membuktikan komitmen mereka pada bisnis perikanan berkelanjutan. “Perusahaan dituntut melakukan aksi-aksi perbaikan sesuai dengan standar perikanan berkelanjutan yang didukung WWF,” ujarnya ketika ditemui di Surabaya.

Menurut Budi, seluruh langkah perbaikan tersebut telah tercantum dalam dokumen Rencana Kerja Perbaikan Perikanan. Dokumen tersebut disusun perusahaan bersama dengan WWF-Indonesia dan mengacu pada standar perikanan berkelanjutan Marine Stewardship Council (MSC) dan Aquaculture Stewardship Council (ASC). Perusahaan anggota Seafood Savers berkomitmen untuk menjalani periode perbaikan selama lima tahun dengan pemantauan secara berkala setiap enam bulan yang akan dilakukan oleh WWF-Indonesia.

Selain itu, anggota Seafood Savers juga wajib menjalani berbagai aktivitas perbaikan perikanan. Aktivitas tersebut antara lain pemenuhan terhadap syarat legalitas, pelaksanaan praktik penangkapan maupun budi daya yang ramah lingkungan, dukungan terhadap tata kelola menuju perikanan berkelanjutan, dukungan terhadap riset dan pengumpulan data, serta pemenuhan tanggung jawab sosial.

Tidak hanya melibatkan industri hulu, Budi juga menjelaskan WWF-Indonesia gencar mengupayakan keterlibatan sektor industri hilir. Salah satunya melalui kampanye Responsible Seafood 2015. Melalui program tersebut WWF-Indonesia mengajak usaha ritel dan jasa makanan produk seafood untuk mengucapkan ikrar untuk mencari tahu asal usul produk seafood yang mereka jual.

Mereka diminta mengumpulkan informasi mengenai asal dan rantai suplai produk seafood mereka. Informasi tersebut dapat berupa lokasi penangkapan atau budi daya, alat tangkap atau metode budi daya yang digunakan, waktu penangkapan atau waktu panen, jumlah pelaku usaha di sepanjang rantai suplai, dan lain-lain. Informasi tersebut dapat membantu identifikasi upaya perbaikan serta pengelolaan sektor perikanan. 

Hingga kini ada empat perusahaan yang telah berkomitmen sebagai anggota Seafood Savers. Keempat perusahaan tersebut adalah PT Mustika Minanusa Aurora, PT Samudera Eco Anugrah Indonesia, PT Hatindo Makmur, dan PT Satu Enam Delapan Benoa.

back to top