Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Sungai Indonesia rusak karena konflik pembangunan dan desakan modal

Sungai Indonesia rusak karena konflik pembangunan dan desakan modal
Surabaya - KoPi | Dunia menghadapi krisis air bersih yang semakin parah setiap tahun. Banyak yang belum menyadari krisis tersebut diakibatkan karena makin terpinggirkannya peran sungai dalam kehidupan sosial masyarakat.
 

Hal tersebut dikatakan Sekjen Kongres Sungai Indonesia 2015, Agus Gunawan Wibisono, Rabu (28/7) menjelang Pra Kongres Sungai Indonesia Jawa Timur, di Surabaya.

Agus mengatakan, secara keseluruhan, sungai sudah terpinggirkan dari prespektif pembangunan dan kehidupan masyarakat. "Itu terjadi mulai dari Daerah Aliran Sungai (DAS), Badan Sungai dari hulu, tengah, hilir, muara, wilayah pesisir, hingga perairan," ungkapnya.

Buktinya, sampai saat ini proses perusakan kualitas air di sungai masih tetap berjalan. Mulai dari penggundulan hutan, pembangunan perumahan di bantaran sungai, sampai pemanfaatan air untuk industri air minum yang semena-mena. Keruwetan persoalan itu juga ditambah dengan penanganan dan pengelolaan permasalahan sungai yang bersifat sektoral.

"Pada masa awal pembangunan, berbagai kawasan di perkotaan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat. Pertumbuhan tersebut tidak terkendali, tidak sesuai dengan rencana tata ruang, tidak serasi dengan lingkungan, dan tidak selaras dengan konsep pembangunan berkelanjutan," keluh Agus.

Akibatnya, timbul masalah ketika lahan semakin terbatas. Masyarakat lalu menjadikan tepian sungai sebagai alternatif pemukiman, khususnya bagi kaum urban berpenghasilan rendah.

Persoalan lain yang juga menambah ruwetnya pengelolaan sungai di Indonesia, menurut Agus, adalah pergeseran paradigma akibat desakan modal. Hal itu mengakibatkan terbatasnya akses rakyat terhadap air. “Air yang awalnya sebagai public goods sekarang menjadi economic goods,” jelasnya.

back to top