Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Sungai Indonesia rusak karena konflik pembangunan dan desakan modal

Sungai Indonesia rusak karena konflik pembangunan dan desakan modal
Surabaya - KoPi | Dunia menghadapi krisis air bersih yang semakin parah setiap tahun. Banyak yang belum menyadari krisis tersebut diakibatkan karena makin terpinggirkannya peran sungai dalam kehidupan sosial masyarakat.
 

Hal tersebut dikatakan Sekjen Kongres Sungai Indonesia 2015, Agus Gunawan Wibisono, Rabu (28/7) menjelang Pra Kongres Sungai Indonesia Jawa Timur, di Surabaya.

Agus mengatakan, secara keseluruhan, sungai sudah terpinggirkan dari prespektif pembangunan dan kehidupan masyarakat. "Itu terjadi mulai dari Daerah Aliran Sungai (DAS), Badan Sungai dari hulu, tengah, hilir, muara, wilayah pesisir, hingga perairan," ungkapnya.

Buktinya, sampai saat ini proses perusakan kualitas air di sungai masih tetap berjalan. Mulai dari penggundulan hutan, pembangunan perumahan di bantaran sungai, sampai pemanfaatan air untuk industri air minum yang semena-mena. Keruwetan persoalan itu juga ditambah dengan penanganan dan pengelolaan permasalahan sungai yang bersifat sektoral.

"Pada masa awal pembangunan, berbagai kawasan di perkotaan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat. Pertumbuhan tersebut tidak terkendali, tidak sesuai dengan rencana tata ruang, tidak serasi dengan lingkungan, dan tidak selaras dengan konsep pembangunan berkelanjutan," keluh Agus.

Akibatnya, timbul masalah ketika lahan semakin terbatas. Masyarakat lalu menjadikan tepian sungai sebagai alternatif pemukiman, khususnya bagi kaum urban berpenghasilan rendah.

Persoalan lain yang juga menambah ruwetnya pengelolaan sungai di Indonesia, menurut Agus, adalah pergeseran paradigma akibat desakan modal. Hal itu mengakibatkan terbatasnya akses rakyat terhadap air. “Air yang awalnya sebagai public goods sekarang menjadi economic goods,” jelasnya.

back to top