Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Rusaknya alam akibat tambang pasir di Magelang

Rusaknya alam akibat tambang pasir di Magelang

Sebelum Gunung Merapi meletus 2010, wilayah Wonolelo Kabupaten Magelang adalah daerah yang indah. Daerah ini juga menjadi wilayah resapan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat baik di hulu maupun hilir. Sungai Pabelan juga mengalir lancar termasuk memberikan keindahan tempat wisata Kedung Kayang. Namun, saat ini-kehancuran telah di depan mata akibat tambang pasir yang tak terkendali.

Magelang-KoPi| Wonolelo, bila Anda belum tahu, terletak di sekitar jalan tembus Magelang-Boyolali. Sekitar 5 km dari Gardu Pandang Merapi, Ketep Kabupaten Magelang atau berada di sekitar lereng Gunung Merapi dan Merbabu.

Lima tahun lalu, jika kita ke Boyolali melewati jalan tembus Magelang-Boyolali, kita akan menemukan jalan yang halus dan suasana udara yang segar di antara pemandangan yang hijau. Namun, setelah penambang pasir beralih dari Sungai Pabelan bawah ke atas baru-baru ini, kita hanya menemui jalan-jalan yang rusak dan meneror, udara yang bertuba dan memedihkan mata serta harapan yang tanpa masa depan.

Anehnya, semua tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang merasa kuatir atau peduli. Bahkan ketika pemandangan di depan kita sudah begitu memperihatinkan. Pemerintah Kabupaten Magelang tak peduli, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tak peduli meskipun banyak masyarakat mulai terganggu dan mengeluhkan.

Konon, menurut kabar dari tokoh LSM di Magelang, tambang pasir di Kabupaten Magelang sebenarnya sudah tidak diizinkan apalagi daerah hulu seperti di hulu sungai. Tapi faktanya sebaliknya. Dalam waktu 24 jam ratusan truk pengangkut pasir mengangkut dan merusak jalanan dan bahkan ditarik pajak oleh pemda.

Gmbr: Mata Air Tuk Songo yang terancam mati

Jika membaca Undang-Undang No 32 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, eksploitasi seperti tambang pasir tidak boleh merusak ekologi wilayah setempat. Apalagi daerah yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Stretergis nasional (KSN). Semua aktivitas yang berkaitan dengan penambangan harus melalui Kajian Perencaanaan dan Penanggulangan Lingkungan Hidup (KPPLH) atau Amdal yang diatur oleh pemda.

Sayangnya, apa yang kita lihat tampak tanpa melalui itu semua. Kehancuran kawasan ekologi sungai utama hancur dan mengubah struktur lingkungan. Tebing-tebing runtuh digerus dengan alat berat. Termasuk rusaknya sumber mata air yang dikenal sebagai Tuk Songo dan Tuk Umbul. Debit mata air ini semakin mengecil. Jalan raya yang mengakses ke wilayah Boyolali atau ke Magelang yang seharusnya menjadi hak publik rusak dan berbahaya karena berlubang dan berpasir.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Yogyo Susaptoyono ketika diminta keterangan melalui WA sebagai wakil rakyat menolak memberikan tanggapan baik tertulis maupun tatap muka. Jadi, semua informasi ini menjadi terkesan memang sengaja dibiarkan. Aneh, kan? | Ranang Aji SP| Andi Setyaji NP|

back to top