Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Nasib binatang ini ada di tangan kita

Nasib binatang ini ada di tangan kita
KoPi | Semakin tua usia planet Bumi ini, semakin terasa juga kerusakan yang telah dilakukan manusia pada alam. Berbagai kehidupan di muka bumi telah terancam keberadaannya akibat aktivitas manusia. Berikut adalah 10 satwa yang nasibnya tergantung di tangan manusia.
 

Tuna sirip biru

Tuna sirip biru (bluefin tuna) kerap disebut sebagai “Ferrari lautan” karena kecepatan berenangnya. Tuna ini mampu tumbuh hingga sepanjang 3 meter. Ikan ini menjadi komoditas seafood paling populer, terutama sebagai bahan sushi.

Namun persediaan tuna sirip biru semakin menipis akibat eksploitasi berlebihan. Kini tuna sirip biru diklasifikasikan sebagai spesies rentan, terancam, atau bahkan terancam punah.

Desember 2014 lalu negara-negara Pasifik menyepakati konsensus mengenai pembatasan pemancingan tuna sirip biru. Upaya ini untuk membantu konservasi yang dilakukan para ahli. Para ahli menyatakan populasi tuna sirip biru tinggal 4 % dari yang pernah tercatat dalam sejarah.

Hiu

Hiu sering kali digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Namun, tahukah Anda bahwa manusia lebih banyak membunuh hiu daripada hiu membunuh manusia? Berdasarkan data National Geographic, setiap tahun hanya segelintir orang yang tewas akibat serangan hiu. Sedangkan manusia setiap tahun membunuh antara 63 juta hingga 273 juta hiu setiap tahun.

Hiu sering kali diburu karena siripnya. Sirip hiu dikenal sebagai salah satu hidangan khas masakan China. Umumnya para pemburu hiu menangkap hiu hidup-hidup, memotong sirip mereka, kemudian melepaskannya kembali. Hiu yang kehilangan sirip akan mati secara perlahan karena tak bisa berenang.

Trenggiling

Trenggiling sering diburu karena daging dan sisiknya. Delapan spesies trenggiling ditemukan di 2 benua, dan semuanya dikategorikan rentan atau terancam. Tahun lalu International Union for Conservation of Nature memberikan peringatan bahwa trenggiling akan punah jika negara-negara seperti Vietnam dan China tidak menghentikan permintaan daging trenggiling.

Kelelawar

Kelelawar merupakan pengontrol populasi serangga dan sering berperan sebagai penyerbuk alami. Namun kini keberadaan kelelawar di Amerika terancam karena penyakit ‘hidung putih’. Penyakit tersebut membuat kelelawar mengeluarkan terlalu banyak tenaga ketika hibernasi dan menyebabkan kematian.

Badak

Populasi badak telah turun secara drastis dalam beberapa tahun terakhir akibat perburuan liar. Cula mereka diminati sebagai bahan ramuan obat tradisional China. Padahal cula tersebut hanya terbuat dari keratin, bahan sama yang membentuk rambut dan kuku. 

Salah satu subspesies badak, yaitu badak hitam Afrika Barat, telah dinyatakan punah pada tahun 2013 lalu. Selain itu, satu subspesies lain, badak putih utara, terancam punah. Dari subspesies tersebut hanya tersisa satu badak jantan.

Gajah

Sama seperti badak, gajah juga terancam punah akibat perburuan liar. Antara tahun 2010 hingga 2012 sebanyak 100 ribu gajah Afrika mati terbunuh pemburu liar. Sama seperti cula badak, gading gajah juga diminati di China dan Asia Tenggara. 

Gorila

Gorila merupakan salah satu primata yang keberadaannya terancam. Dari dua spesies gorila yang ada, satu spesies berstatus terancam dan satu spesies lagi berstatus terancam punah. Perambahan hutan mengancam keberadaan mereka, namun perburuan liar juga berperan dalam pengurangan populasi mereka.

Harimau

Raja hutan yang eksotis ini mengalami nasib tragis selama 2 abad terakhir. Akibat ulah manusia, diperkirakan hanya tersisa 3.200 ekor harimau liar di seluruh dunia. Berdasarkan data WWF, populasi harimau turun 97 % selama satu abad ini. Perburuan liar menjadi penyebabnya. Bagian tubuh harimau sering diminati sebagai bahan obat tradisional. Hilangnya hutan juga mengancam keberadaan mereka.

Beruang kutub

Nasib hewan lucu ini juga semakin menyedihkan. Diperkirakan hanya tersisa 20.000 hingga 25.000 beruang kutub liar. Melelehnya es di Kutub Utara menjadi ancaman utama bagi mereka. Tanpa adanya daratan es, tidak ada ruang bagi beruang kutub untuk bergerak dan berburu singa laut. Mereka juga terancam tenggelam jika es kutub semakin sedikit.

Lebah

Sama seperti kelelawar, lebah memiliki peran penting dalam siklus kehidupan. Di Amerika, populasi lebah terancam akibat berbagai hal, mulai dari penggunaan pestisida, serangan rayap, turunnya biodiversitas, dan berbagai faktor lain. | The Huffington Post

back to top