Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Masjid dan Gereja diminta doakan kasus Montara

image 2

Kupang-KoPi| Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara,Ferdi Tanoni (dua dari kiri) meminta di hadapan Ketua Klasis GMIT se-NTT meminta dukungan doa atas perjuangan penyelesaian Kasus Pencemaran Laut Timor.

Pemimpin Agama di Nusa Tenggara Timur dan Australia diminta bantuan mendoakan penyelesain kasus pencemaran di Laut Timor akibat dari tumpahan minyak montara tahun 2009 yang menyengsarakan lebih 100.000 masyarakat pesisir yang tersebar di 13 Kabupaten/Kota se-NTT terutama para petani rumput laut dan nelayan kehilangan mata pencaharian mereka hingga saat ini.

Hal ini terungkap dalam surat Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara,Ferdi Tanoni tetanggal 21 Maret 2018 yang diterima wartawan di Kupang,Jumat (23/03).

Surat tersbut ditujukan kepada Ketua Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili Timor),Presiden Uniting Church Australia,GKS (Gereja Kristen Sumba),Uskup Agung Kupang,Weetabula,Uskup Atambua, Uskup Larantuka dan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) NTT dengan tembusan kepada Ketua PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia),Ketua KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia),Ketua MUI Pusat dan Presiden Australian Council of Churches.

Dalam surat tersebut,Tanoni menyampaikan bahwa secara manusia dirinya telah berupaya maksimal sampai pada titik yang tertinggi yakni,masalah ini telah sampai di meja Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri Australia,dan mengajukan gugatan terhadap pencemar Laut Timor yang perkaranya sedang berlangsung di Pengadilan Federal Australia di Kota Sydney.

“Namun hingga saat ini berbagai upaya maksimal yang telah dilakukan masih belum mendapatkan sebuah keadilan bagi rakyat korban”.

“Sebagai sesama orang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa”,memohon kepada para pemimpin agama agar berkenan membawakan “Suara kebenaran dari perjuangan yang maha berat” ini kedalam doa melalui mimbar-mimbar Gereja dan Masjid hingga mendapatkan sebuah keadilan bagi saudara dan saudari kita yang sedang berada dalam penderitaan selama hampir 9 tahun ini,lanjut isi surat tersebut.

Tanoni yang juga adalah pemegang mandat hak ulayat masyarakat adat di Laut Timor ketika dihubungi membenarkan adanya surat tersebut yang ditujukan kepada para pemimpin agama di NTT dan Australia itu.

Ia menambahkan bahwa sangatlah wajar mengirimkan surat tersebut karena selama ini para pemimpin agama di NTT dan Australia memberikan dukungan terhadap perjuangan nya.

“Kita rakyat Indonesia menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta Langit dan Bumi bukan menyembah kepada manusia,sehingga langkah yang saya lakukan ini sudah benar dan sangat tepat sekali”,kata mantan agen Imigrasi Australia ini.

“Saya berkeyakinan penuh bahwa kebenaran pasti akan menang,kebenaran mungkin bisa dicurangi akan tetapi tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun,karena kebenaran tetap adalah kebenaran dan kecurangan adalah kecurangan sekalipun dibenarkan”,demikian Ferdi Tanoni.

back to top