Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

"Hatiku berdesir ketika memandangnya..."

"Hatiku berdesir ketika memandangnya..."

Pagi itu, aku memberanikan diri menembus kabut—Sang Penyihir jiwa yang tangguh meninabobokan siapapun di balik selimut hangat. Langkahku mengikuti alur jalan yang tampak samar. Kata orang-orang, jika berjalan di sini ketika matahari belum bersinggasana, kabut akan menyegarkan pikiran lelah yang tak lagi ranum. Namun, tidak untuk hari ini.

Hatiku berdesir ketika memandangnya. Ada hal yang mengusikku. Seperti sayap hitam burung gagak raksasa.

Kabut disini tidak seperti yang dikatakan mereka. Sesak. Ada yang salah. Beberapa detik degupku menyadarinya. Ah semua tak lagi sama. Aku begidik, dan terhimpit kenyataan tidak menyenangkan.

Ini bukanlah bumiku yang apik parasnya. Ah…aku terlalu lama bersarang di balik selimut. Bahkan tak tahu adanya pergantian zat penyusun kabut – sesuatu yang dulu kuanggap sebagai pelengkap dunia semata. Sekarang dicari-cari layaknya sebuah permata yang hilang.

Bumi. Perasaan apa ya ini, bersaksi dan hidup dalam bumi sesempit saluran got yang telah disumbat oleh tumpukan sampah. Agak lucu bila suatu waktu ada kegiatan bekerja bakti dan jawaban kita adalah ‘Lagi-lagi membersihkan lingkungan...’

Aneh bila kita sadar bahwa segala hal itu merujuk pada adanya keyakinan bahwa kita dan Bumi adalah dua hal yang sangat berbeda dan tidak merasa adanya ‘keterikatan’ kepentingan satu dengan yang lain.

Padahal faktanya? Lantas, entah berapa kali kutonton The Earth and Us ini. Makin sering menontonnya, makin membesar dentum perasaan untuk ikut bekerja. Apapun yang aku bisa. Karena percaya atau tidak, aku memilih ini: “Satu-satunya cara untuk mengubah dunia adalah mengubah manusianya. Satu per satu.” | Salsa

Media

back to top