Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

"Hatiku berdesir ketika memandangnya..."

"Hatiku berdesir ketika memandangnya..."

Pagi itu, aku memberanikan diri menembus kabut—Sang Penyihir jiwa yang tangguh meninabobokan siapapun di balik selimut hangat. Langkahku mengikuti alur jalan yang tampak samar. Kata orang-orang, jika berjalan di sini ketika matahari belum bersinggasana, kabut akan menyegarkan pikiran lelah yang tak lagi ranum. Namun, tidak untuk hari ini.

Hatiku berdesir ketika memandangnya. Ada hal yang mengusikku. Seperti sayap hitam burung gagak raksasa.

Kabut disini tidak seperti yang dikatakan mereka. Sesak. Ada yang salah. Beberapa detik degupku menyadarinya. Ah semua tak lagi sama. Aku begidik, dan terhimpit kenyataan tidak menyenangkan.

Ini bukanlah bumiku yang apik parasnya. Ah…aku terlalu lama bersarang di balik selimut. Bahkan tak tahu adanya pergantian zat penyusun kabut – sesuatu yang dulu kuanggap sebagai pelengkap dunia semata. Sekarang dicari-cari layaknya sebuah permata yang hilang.

Bumi. Perasaan apa ya ini, bersaksi dan hidup dalam bumi sesempit saluran got yang telah disumbat oleh tumpukan sampah. Agak lucu bila suatu waktu ada kegiatan bekerja bakti dan jawaban kita adalah ‘Lagi-lagi membersihkan lingkungan...’

Aneh bila kita sadar bahwa segala hal itu merujuk pada adanya keyakinan bahwa kita dan Bumi adalah dua hal yang sangat berbeda dan tidak merasa adanya ‘keterikatan’ kepentingan satu dengan yang lain.

Padahal faktanya? Lantas, entah berapa kali kutonton The Earth and Us ini. Makin sering menontonnya, makin membesar dentum perasaan untuk ikut bekerja. Apapun yang aku bisa. Karena percaya atau tidak, aku memilih ini: “Satu-satunya cara untuk mengubah dunia adalah mengubah manusianya. Satu per satu.” | Salsa

Media

back to top