Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Gubenur Kaltim cabut izin dua perusahaan pengancam lumba-lumba Mahakam

Gubenur Kaltim cabut izin dua perusahaan pengancam lumba-lumba Mahakam

Samarinda-KoPi|Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak akhirnya mencabut izin 2 perusahaan di bawah naungan Gunung Bayan Resources, yakni PT Fajar Sakti Prima (FSP) dan Bara Tabang (21/8) karena terbukti melanggar Dokumen Analinsa Dampak Lingkungan (AMDAL) yang seharusnya melintas di Sungai Belayan saja, bukan di Sungai Kedang Kepala. Selain itu mereka juga melanggar kapasitas yang seharusnya hanya 2700 ton, namun di lapangan ternyata memuat 8000 ton.

Selain itu, dengan masuknya Ponton Batubara di Sungai Kedang Kepala dikhawatirkan akan mengganggu habitat pesut Mahakam atau lumba-lumba Sungai Mhakam yang sering muncul di situ, mengganggu kawasan lahan Gambut, serta merusak ratusan keramba ikan milik warga.

Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris / Irrawady Dolphin) merupakan satwa langka yang dilindungi pemerintah melalui UU dan dinyatakan sebagai satwa yang terancam punah oleh IUCN. Populasi mereka yang tersisa 86 ekor harus dilindungi dan dilestarikan semua pihak sehingga tidak punah seperti Baiji yang ada di sungai Cina. Pesut Mahakam juga terdapat di Myanmar dan Kamboja, namun dengan status yang sama dengan yang ada di Indonesia, yakni sama - sama terancam punah.

Beberapa aktivis lingkungan hidup dan ormas gabungan seperti Jatam Kaltim, Komunitas Save The Mahakam Dolphin, menyambut gembira keputusan tegas Gubenur Kaltim tersebut dan mengucapkan terima kasih pada masyarakat yang telah mendukung gerakan penyelamatan lumba-lumba air tawar Mahakam.

Sebelumnya, 19 Agustus 2015 lalu, perwakilan tersebut ialah Merah Johansyah (Jatam), Innal Rahman dan Septy Adji (Komunitas Save the Mahakam Dolphin) bertemu Gubenur Awang Faroek untuk mendesak pembekuan perusahaan-perusahaan yang mengancam kelestarian lumba-lumba Mahakam.

back to top