Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Gawat! Pisang terancam punah sebentar lagi!

Gawat! Pisang terancam punah sebentar lagi!
KoPi | Pemandangan hamparan kuning pisang di supermarket sepertinya akan tinggal kenangan. Pisang Cavendish yang biasa kita jumpai di supermarket terancam punah.
 

Berdasarkan sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS Pathogens, sebuah penyakit yang disebut Tropical Race 4 telah menyebar di berbagai perkebunan pisang Cavendish di seluruh dunia. Parahnya lagi, tidak ada yang tahu bagaimana menghentikan penyakit ini.

Penyakit Tropical Race 4 sebenarnya telah lama menjangkiti perkebunan pisang Cavendish selama beberapa dekade. Selama ini penyakit tersebut hanya menyebar di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Namun, sejak 2013, penyakit ini telah menyeberangi benua dan telah mencapai kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Australia.

Parahnya lagi, pisang Cavendish merupakan hasil kloning atau kultur jaringan dan tidak memiliki keragaman genetik. Memang pisang Cavnedish dikembangbiakkan sebagai cara untuk menanggulangi penyakit Panama. Namun pisang ini tidak bisa dikembangbiakkan secara seksual dan tidak bisa berevolusi, sehingga mereka sangat rentan terhadap penyakit baru.

Saat ini pisang Cavendish merupakan pisang yang paling banyak diekspor di seluruh dunia. Warna kulitnya kuning mulus, sehingga tampak cantik. Dagingnya berwarna putih dengan sedikit rasa asam pada manisnya. Pisang ini paling banyak ditemukan di supermarket pada bagian buah-buahan impor. Indonesia selama ini memang banyak mengimpor pisang Cavendish. Pada Januari 2014 saja, Indonesia telah mengimpor 40 ton pisang Cavendish. Angka tersebut meningkat pada tahun 2015.

Ancaman kepunahan pisang Cavendish ini mengingatkan para ahli atas tragedi kepunahan pisang Gros Michel. Sebelum pisang Cavendish populer, pada tahun 1960-an pisang Gros Michel merupakan pisang yang paling terkenal dan paling banyak diekspor. Pisang tersebut memiliki ukuran lebih besar, rasa yang lebih enak, dan lebih tahan penyakit daripada pisang Cavendish. 

Namun serangan hama penyakit Panama menghancurkan semua perkebunan pisang Gros Michel di seluruh dunia. Pisang Gros Michel punah, dan pisang Cavendish menjadi idola baru pisang ekspor. |The Huffington Post

 

back to top