Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Dorodjatun: Pencemaran Laut Timor Merupakan Masalah Bangsa

Foto:Ferdi Tanoni-Dorodjatun Kuntjoro-Jakti Foto:Ferdi Tanoni-Dorodjatun Kuntjoro-Jakti

"Kasus Petaka Tumpahan Minyak Montara 2009 di Laut Timor yang telah mengorbankan ribuan masyarakat Nusa Tenggara Timur itu bukan hanya merupakan masalah Peduli Timor Barat dan rakyat serta Pemerintah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tetapi merupakan masalah bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia." Demikian pernyataan Profesor (emiritus) Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Ph.D ini sebagaimana yang disampaikan Ketua Peduli Timor Barat Ferdi Tanoni kepada wartawan di Kupang, Rabu (11/01).

Menurut Ferdi Tanoni, "Pada hari Senin tanggal 9 Januari 2017 saya didamping Pak Frans Padak Demon menemui Profesor (emiritus) Dorodjatun Kuntjoro-Jakti,PhD di Jakarta dan dalam pertemuan itu kami menyinggung soal Kasus Petaka Pencemaran Laut Timor yang sudah berjalan tujuh tahun lebih namun belum juga tuntas urusan nya, sementara ribuan masyarakat korban di NTT terus menderita."

Dalam pertemuan dengan mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Amerika Serikat yang akrab disapa dengan nama Pak Djatun tersebut lanjut Tanoni,beliau menyatakan bahwa "Petaka Montara 2009 di Laut Timor ini seharusnya dijadikan sebuah Yurisprudensi bagi bangsa ini,guna mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari mengingat begitu banyak anjungan minyak dan gas yang bertebaran di seluruh wilayah perairan Indonesia."

"Belum lagi kapal-kapal tanker yang berseliweran dengan mengangkut bahan minyak dan gas serta kapal-kapal selam yang membawa bahan nuklir melintasi tiga kawasan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) dimana salah satu dari tiga ALKI tersebut yakni ALKI III berada di kepualuan Nusa Tenggara Timur". Dengan demikian, sambung Tanoni mengutip Dorodjatun bahwa bila kemudian hari terjadi hal yang serupa maka akan lebih mudah untuk diselesaikan permasalahannya. Menurut Pak Djatun, Kompensasi Ganti Rugi adalah penting akan tetapi jauh lebih penting Kasus Petaka Montara ini dijadikan sebuah “Legal Precedent” sebagai sebuah warisan bagi anak cucu bangsa Indonesia."

Kepedulian Dorodjatun-Kuntjoro-Jakti,mantan Menko Perekonomian dalam Kabinet Gotong Royong ini terhadap Provinsi Nusa Tenggara Timur diaktualisasikan pada era kepemimpinan Pak Gubernur Herman Musakabe (1993-1998) dimana beliau memperkenalkan tiga orang ekonom ternama Universitas Indonesia (UI) yakni Pak Faisal Basri, Pak Acmad Shauki dan Ibu Sri Mulyani Indrawati (sekarang menjabat Menteri Keuangan RI) untuk melakukan kajian ekonomi bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur, tambah Tanoni.

Pak Djatun juga menyinggung tentang keprihatinan nya terhadap "Kasus Petaka Tumpahan Minyak Montara 2009 di Laut Timor" yang sudah berjalan tujuh tahun lebih tetapi penyelesaian nya seolah hanya berjalan di tempat,sementara ribuan masyarakat korban terus menderita, demikian Ferdi Tanoni katakan. (Julius)

back to top