Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Dorodjatun: Pencemaran Laut Timor Merupakan Masalah Bangsa

Foto:Ferdi Tanoni-Dorodjatun Kuntjoro-Jakti Foto:Ferdi Tanoni-Dorodjatun Kuntjoro-Jakti

"Kasus Petaka Tumpahan Minyak Montara 2009 di Laut Timor yang telah mengorbankan ribuan masyarakat Nusa Tenggara Timur itu bukan hanya merupakan masalah Peduli Timor Barat dan rakyat serta Pemerintah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tetapi merupakan masalah bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia." Demikian pernyataan Profesor (emiritus) Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Ph.D ini sebagaimana yang disampaikan Ketua Peduli Timor Barat Ferdi Tanoni kepada wartawan di Kupang, Rabu (11/01).

Menurut Ferdi Tanoni, "Pada hari Senin tanggal 9 Januari 2017 saya didamping Pak Frans Padak Demon menemui Profesor (emiritus) Dorodjatun Kuntjoro-Jakti,PhD di Jakarta dan dalam pertemuan itu kami menyinggung soal Kasus Petaka Pencemaran Laut Timor yang sudah berjalan tujuh tahun lebih namun belum juga tuntas urusan nya, sementara ribuan masyarakat korban di NTT terus menderita."

Dalam pertemuan dengan mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Amerika Serikat yang akrab disapa dengan nama Pak Djatun tersebut lanjut Tanoni,beliau menyatakan bahwa "Petaka Montara 2009 di Laut Timor ini seharusnya dijadikan sebuah Yurisprudensi bagi bangsa ini,guna mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari mengingat begitu banyak anjungan minyak dan gas yang bertebaran di seluruh wilayah perairan Indonesia."

"Belum lagi kapal-kapal tanker yang berseliweran dengan mengangkut bahan minyak dan gas serta kapal-kapal selam yang membawa bahan nuklir melintasi tiga kawasan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) dimana salah satu dari tiga ALKI tersebut yakni ALKI III berada di kepualuan Nusa Tenggara Timur". Dengan demikian, sambung Tanoni mengutip Dorodjatun bahwa bila kemudian hari terjadi hal yang serupa maka akan lebih mudah untuk diselesaikan permasalahannya. Menurut Pak Djatun, Kompensasi Ganti Rugi adalah penting akan tetapi jauh lebih penting Kasus Petaka Montara ini dijadikan sebuah “Legal Precedent” sebagai sebuah warisan bagi anak cucu bangsa Indonesia."

Kepedulian Dorodjatun-Kuntjoro-Jakti,mantan Menko Perekonomian dalam Kabinet Gotong Royong ini terhadap Provinsi Nusa Tenggara Timur diaktualisasikan pada era kepemimpinan Pak Gubernur Herman Musakabe (1993-1998) dimana beliau memperkenalkan tiga orang ekonom ternama Universitas Indonesia (UI) yakni Pak Faisal Basri, Pak Acmad Shauki dan Ibu Sri Mulyani Indrawati (sekarang menjabat Menteri Keuangan RI) untuk melakukan kajian ekonomi bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur, tambah Tanoni.

Pak Djatun juga menyinggung tentang keprihatinan nya terhadap "Kasus Petaka Tumpahan Minyak Montara 2009 di Laut Timor" yang sudah berjalan tujuh tahun lebih tetapi penyelesaian nya seolah hanya berjalan di tempat,sementara ribuan masyarakat korban terus menderita, demikian Ferdi Tanoni katakan. (Julius)

back to top