Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

“Bina kami agar tak tergoda iming-iming pengembang...”

“Bina kami agar tak tergoda iming-iming pengembang...”
Surabaya – KoPi | Kawasan mangrove merupakan benteng terakhir kelestarian lingkungan di Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya telah menetapkan kawasan Wonorejo sebagai kawasan konservasi pada tahun 2007. Namun pemerintah terasa abai dalam perawatan kawasan tersebut. Itu terlihat dari bagaimana kondisi kawasan tersebut.
 

Ratno mengatakan, selama ini penanaman mangrove di Wonorejo menggunakan dana dari CSR perusahaan. Mereka mengambil bibit dari para petani, kemudian ditanam pada saat event-event tertentu. Namun segala perawatan sesudahnya menjadi tanggung jawab petani di kawasan Wonorejo. Pemerintah tak pernah terlihat, bahkan untuk memberi pembinaan atau sosialisasi.

Salah seorang petani tambak, Ratno, mengaku mulai menanam mangrove sejak tahun 2011. Ia kemudian juga mengajak petani-petani lain untuk menanam mangrove. Saat itu produksi tambak bandeng dan udang mereka sudah semakin turun karena pencemaran air.

“Selain sebagai bentuk kepedulian lingkungan, menanam mangrove juga menjadi penghasilan tambahan bagi kami. Karena itu banyak rekan-rekan saya yang tertarik,” cerita Ratno.

Mereka memulai tanpa bantuan pemerintah. Namun, mangrove yang mereka kembangkan mampu memenuhi permintaan perusahaan dan pemerintah ketika yang bersangkutan mengadakan kegiatan CSR. Pemeliharaan mangrove menggunakan dana hasil CSR tersebut. Namun jika tidak cukup, tentu saja mereka harus merogoh kocek sendiri.

Meski demikian, Ratno dan kawan-kawannya tetap mengaku sebagai petani tambak. Menanam mangrove hanya pekerjaan sampingan. Mangrove itu juga tidak menghasilkan pendapatan yang pasti. Mangrove tersebut biasanya dipesan oleh para perusahaan atau pemerintah ketika ada kegiatan tanam mangrove massal. Karena itu sifatnya musiman, mengikuti kegiatan CSR yang diadakan perusahaan.

Karena itu ia berharap Pemkot Surabaya sudi memberikan pembinaan untuk mengoptimalkan tambak mereka. Tambak Wonorejo adalah bagian dari ekosistem pantai, menjadi tempat peristirahatan bagi burung-burung migran. Jika tambak sudah tak lagi menjamin kehidupan mereka, siapa yang bisa memastikan para petani tak akan menjual lahan mereka ke pengembang perumahan? Artinya, benteng ekosistem pantai akan semakin terancam.

“Kami mohon agar pemerintah memperhatikan kami. Tambak kami jika sedang bagus bisa menghasilkan setidaknya 4 kuintal per bulan. Kami tidak ingin macam-macam, tidak perlu bantuan yang jumlahnya miliaran. Hanya beri kami penyuluhan dan pembinaan saja, maka kami tidak akan tergiur iming-iming pengembang. Itu bisa jadi penghidupan kami dan menopang pemeliharaan mangrove di sini,” ujar Ratno.

 

back to top