Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Berbondong dan berebut tanah Borobudur

Berbondong dan berebut tanah Borobudur
Bukan saja ada Mandala Borobudur yang terkenal di seantero jagad, tetapi aneka tambang terpendam di dalamnya. Mungkin ini yang membuat banyak pemodal besar mengincar Borobudur. Tetapi masyarakatnya tetap termiskin ke dua di Kab Magelang. Ironis lagi paradoks ya..

Borobudur-KoPi| Dalam cerita Materialisme Histori Marxisme, kita mengenal urutan fase zaman; komunisme primitif, zaman budak, zaman feodal hingga zaman kapitalisme. Pada masa kapitalisme kekuatan modal yang hanya dimiliki oleh segelintir orang menguasai hampir semua sektor ekonomi dan potensi alam di satu wilayah.

Fenomena kapitalisme ini juga tampak di wilayah Borobudur. Entah, sebuah kebetulan atau tidak, tetapi saat ini berbondong-bondong orang bermodal datang dan membeli tanah di Borobudur. Kebanyakan dari mereka adalah orang asing yang menginvestasikan modalnya untuk bisnis penginapan. Mereka, bahkan membangun bisnis mereka di atas tanah yang seharusnya haram didirikan bangunan, seperti sawah-sawah atau kawasan resapan yang sudah diatur dalam Kawasan Stratergis Nasional (KSN).

Sebagian lain datang melalui organisasi agama. Hartati Murdaya, mantan bendahara Partai Demokrat yang pernah ditahan KPK, adalah salah satu yang disebut-sebut membeli tanah-tanah yang luas di sekitar Borobudur.

"Jumlahnya hektaran, terutama di sekitar Candi Borobudur." Kata salah seorang ketua RT di kawasan dusun Jowahan. " Semua yang di belakang candi itu sudah punya dia semua, kecuali sedikit. Meskipun sudah dibeli, tanah masih boleh digarap oleh pemilik lama."

Selain itu disebut-sebut bernama Fery, salah seorang ponakan dari Liem Soe Liong, Konglomerat, pemilik Grup Indofood. Beberapa waktu berselang ia membeli tanah di sekitar kawasan Bejen, dekat pertemuan Sungai Progo dan Sungai Elo yang dikenal eksotis dan mistis.

Menurut penduduk Bejen, Fery ingin membangun Vihara dan Patung Buddha besar sebagai bentuk persembahan dan pertobatannya. Namun, masyarakat masih menolak pembangunan itu.

Borobudur secara geofrafis memiliki wilayah sebagian perbukitan yang melingkari dari Kulonprogo hingga Purworejo. Di kawasan ini terdapat banyak kekayaan alam yang terpendam seperti tambang marmer merah yang hanya ada dua tempat di dunia; Indonesia dan Italia.

Di Kawasan perbukitan ini hadir NGO asing yang berfokus pada isu konservarsi alam. NGO bernama Rainforest Alliance ini telah bertahun-tahun beraktifitas di kawasan perbukitan Borobudur. Tak banyak orang tahu apa yang sudah diperbuat NGO asing terhadap kawasan yang diduga memiliki kandungan kekayaan alam. Tetapi masyarakat lebih tahu bahwa ada orang asing membangun sebuah hotel di atas bukit yang termasuk kawasan haram dibangun.

Berbondongnya kepentingan asing dan pemodal besar di wilayah Borobudur, menurut Yoyo, seorang seniman lukis yang juga pecinta lingkungan dianggap sudah menguatirkan. Para pemodal besar ini bisa menjadi ancaman lingkungan. Sementara dari dulu masyarakat tetap dalam kemiskinan.

"Borobudur, kok jadi seperti ini, berubah jadi Bali. Ironis lagi paradoks," prihatinnya. |Reporter: E Hermawan| Winda Efanur FS

Baca: Di Borobudur, selain marmer merah, ada emas juga

back to top