Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Banyak ijin amburadul, Pansus Tambang minta Gubernur moratorium usaha tambang

Banyak ijin amburadul, Pansus Tambang minta Gubernur moratorium usaha tambang
Surabaya-KoPi| Pansus Pertambangan DPRD Jawa Timur merekomendasikan Pemprov Jawa Timur melakukan moratorium Ijin Usaha Pertambangan (IUP) di seluruh Jawa Timur. Hal itu didasarkan pada banyaknya penolakan masyarakat pada aktivitas tambang di daerah-daerah.
 

Ketua Pansus Pertambangan DPRD Jatim Ahmad Hadinuddin menyebutkan, salah satu penolakan masyarakat terhadap aktivitas tambang terjadi di Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Karenanya, Hadinuddin meminta agar gubernur menghentikan lelang tambang emas di kawasan tersebut.

"Lokasi tambang emas Silo Jember itu berada di kawasan hutan lindung dan dalam satu gugusan gunung dengan tambang emas Tumpang Pitu Banyuwangi. Kami khawatir ekosistem dan lingkungan menjadi rusak karena  hutan tersebut merupakan paru-paru Pulau Jawa," ujar politisi Partai Gerindra tersebut.

Pasalnya, Pansus Pertambangan menemukan fakta bahwa IUP tambang emas Tumpang Pitu Banyuwangi amburadul. Pengelolanya, PT Bumi Suksesindo (BSI) tidak memiliki pengalaman di bidang pertambangan.

IUP PT BSI ternyata tidak disertai prosedur yang benar. Di antaranya tidak disertai laporan studi kelayakan, laporan ekplorasi, laporan kerja, anggaran belanja, rencana reklamasi, rencana paksa tambang, Amdal, dan jaminan reklamasi. 

"Sampai saat ini belum ada dana jaminan reklamasi yang dijaminkan PT BSI kepada Pemprov Jawa Timur. Bahkan laporan studi kelayakan masih dalam pembahasan dengan Dinas ESDM Jatim," papar Hadinuddin.

Ironisnya lagi, perijinan tersebut mengalami perubahan empat kali sejak 2012 hingga 2015. Di antaranya, SK Bupati Banyuwangi No.188/928/KEP/429.011/2012 tanggal 7 Desember 2012 perihal ijin usaha. SK tersebut menyebutkan wilayah lokasi penambangan seluas 4.998 hektar adalah hutan lindung sehingga area tersebut tidak diperbolehkan untuk usaha pertambangan. 

Hadinuddin juga mempertanyakan dana CSR senilai Rp 4 miliar yang dikeluarkan PT BSI untuk biaya renovasi stadion dan Banyuwangi Carnival. Padahal PT BSI belum melakukan kegiatan penambangan karena proses kelengkapan proses perijinan belum tuntas. 

"Kami khawatir dana CSR itu dapat menjadi masalah dikemudian hari," terang anggota Komisi D DPRD Jatim tersebut.

Hadinuddin mengatakan, sejak lahirnya UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, kewenangan IUP berada di Provinsi. Gubernur Jatim sendiri telah mengeluarkan Pergub No. 15 Tahun 2015 tentang Pertambangan. Jika Gubernur berani melakukan moratorium IUP, pertambangan di Jawa Timur dapat ditata dengan lebih baik dan teratur.

back to top