Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Awas, jangan buang makanan sisa sembarangan!

Awas, jangan buang makanan sisa sembarangan!
KoPi| Orang tua kita selalu menasehati agar mengambil makanan secukupnya dan jangan pernah menyia-nyiakan makanan. Namun, di jaman modern ini, saat manusia mencapai kemakmuran tertinggi, semakin berlebih bahan makanan yang tersedia. Sayangnya tak semuanya habis termakan. Pernahkah kita berpikir seberapa besar bahaya jika kita membuang makanan sisa?
 Badan pangan dunia, FAO, memperkirakan, manusia membuang sampah sisa makanan sebesar 1,4 miliar ton setiap tahunnya. Jumlah yang luar biasa. Jumlah itu disebut jauh lebih berat daripada Gunung Fuji yang ada di Jepang.

Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science and Technology, makanan sisa memberi beban yang luar biasa pada planet ini. Limbah makanan disebut sebagai penyebab pemanasan global. Negara-negara Barat dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab pada kondisi kritis ini.

"Salah satu penyebab perubahan iklim adalah gaya konsumsi makanan di negara-negara Barat," ungkap Jurgen Kropp, peneliti asal University of Postdam, Jerman.

Kropp mengungkapkan, meskipun jumlah konsumsi tidak banyak berubah selama 50 tahun terakhir, surplus makanan secara global mencapai meningkat 65 persen lebih banyak. Produksi makanan yang semakin banyak berakibat pada makin besarnya gas rumah kaca yang dikeluarkan sektor pertanian. Parahnya, meski produksi makanan dunia semakin banyak, hal itu tidak mengurangi jumlah korban kelaparan di negara-negara miskin.

Dalam penelitian tersebut, Kropp dan rekan-rekannya menyebutkan, dengan menghindari membuang makanan sisa, manusia dapat mencegah efek bencana iklim seperti cuaca ekstrem.

"Sektor pertanian merupakan pendorong terbesar perubahan iklim, bertanggungjawab pada 20 persen emisi gas rumah kaca secara global pada tahun 2010. Menghindari pembuangan makanan sisa dapat menghindari emisi gas rumah kaca yang tak perlu dan membantu mengurangi dampak perubahan iklim," jelas Prajal Pradhan, rekan peneliti Kropp.

Menurut data FAO, setiap tahun sekitar sepertiga makanan di dunia dibuang sia-sia. Makanan sisa tersebut bernilai kurang lebih US$ 1 triliun (sekitar Rp 13 ribu triliun). Padahal, jumlah tersebut dapat memberi makan 2 triliun orang. Saat ini, diperkirakan ada 800 juta orang di dunia yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi. |Huffington Post

back to top