Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

2014, Tahun Terpanas Dalam 135 Tahun Terakhir

2014, Tahun Terpanas Dalam 135 Tahun Terakhir
Tahun 2014 adalah tahun terpanas sepanjang 135 tahun terakhir dalam catatan National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). 

KoPi| NOAA mengatakan bahwa rata-rata gabungan suhu permukaan daratan dan lautan global tahun ini adalah 58,24 o F. Suhu tanah sendiri 1,24 o F di atas suhu rata-rata pada abad ke-20, sedang suhu permukaan laut 1,03o F di atas rata-rata. Sedikit berbeda dengan laporan NOAA, NASA mencatat suhu rata-rata pada tahun 2014 mencapai 58,42oF. Beberapa bulan tercatat sebagai bulan terpanas yakni : Mei, Juni, Agustus, September, Oktober, dan Desember 2014.

"Dilihat dalam konteks, catatan 2014 suhu menggarisbawahi fakta yang tak terbantahkan bahwa kita menyaksikan di depan mata kita, dampak dari perubahan iklim yang disebabkan manusia. Ini Karena meningkatnya kadar gas pemanasan planet yang diproduksi oleh bahan bakar fosil,” kata ilmuwan iklim Michael Mann kepada The Huffington Post.

Di beberapa negara seperti California, negara Amerika pada umumnya, Australia, dan sebagian negara Brazil, meningkatnya suhu permukaan darat menyebabkan kekeringan, dan menyebabkan stres yang dipengaruhi karena persediaan konsumsi air dan hutan.

"Dengan berlanjutnya pemanasan global, kita akan melihat lebih banyak daerah dengan keadaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan akan mendatangkan biaya yang lebih dan lebih untuk manusia dan yang mereka hargai. 2014 menunjukkan bahwa manusia memang memasak planet mereka sebagaimana mereka terus membakar bahan bakar fosil,” terang Michael.

Bulan Februari 1985 adalah terakhir kali Bumi terlihat lebih dingin dari rata-rata bulan lainnya. Marshall Shepperd, seorang profesor di University of Georgia mengatakan bahwa untuk mevalidasi pengukurannya, instrumen darat seperti termometer juga digunakan selain berbasis pada pengukuran melalui satelit.

Rekor dunia baru ini juga terkenal karena 2014 bukanlah tahun El Niño. Fenomena cuaca ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat daripada rata-rata di khatulistiwa pasifik, dan menyebabkan rata-rata suhu udara di sekitar permukaan atas dan dampak lain di seluruh dunia. El Nino telah diamati selama periode hangat tahun-tahun sebelumnya, seperti tahun 1998, 2005 dan 2010.

Seiring dengan meningkatnya suhu, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer juga terus meningkat. Konsentrasi karbon dioksida melampaui 400 bagian per juta pada Mei 2013, setidaknya untuk pertama kali dalam delapan ratus ribu tahun. 

Konsentrasi CO2 mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak signifikan pada siklus tahunan, namun tetap di atas 400 bagian per juta selama beberapa bulan pada tahun 2014 dan telah melampaui 400 lagi pada bulan Januari 2015. Terakhir kali tingkat karbon dioksida yang tinggi ini, suhu naik ke 11o F lebih hangat dari hari ini, dan permukaan air laut menjadi lebih tinggi beberapa inchi.

Konsumsi bahan bakar fosil yang besar terus menerus di bumi, sekali lagi akan menyumbangkan zat kimia pada atmosfer di Bumi dan menjebak lebih banyak panas matahari di Bumi. Manusia harus mengurangi pemborosan tersebut sebelum Bumi benar-benar terbakar. |huffingtonpost.com

back to top