Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pemuda peduli Pemilu

New Picture

Jogja-KoPi| Partsipasi politik pemilih pemula yaitu para remaja yang baru memilih karena umur yang baru mencukupi pada hari pemilihan menimbulkan rasa penasaran bagi pemula yang baru dalam memiliki hak pilih dalam Pilwali 2017.

Salah satu bentuk partisipasi pemilih pemula dalam Pemilu tahun 2019 selain menggunakan hak pilihnya adalah pengawasan terhadap proses Pemilu tahun 2019. Pertanyaaannya adalah bagaimana agar menarik minat Pemilih Pemula untuk ikut mengawasi Proses dan tahapan Pemillu tahun 2019?

Karena alasan itulah Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Yogyakarta sebagai lembaga yang bertugas mengawasi Proses dan Tahapan Pemilu di Kota Yogyakarta berusaha merangkul Pemilih Pemula untuk ikut mengawasi proses ini dengan merencanakan program-program pengawasan yang ‘ramah dan menyenangkan untuk pemilih pemula.

Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Yogyakarta merencanakan beberapa program pengawasan untuk pemilih pemula seperti pengawasan melalui pembuatan film pendek, atau memanfaatkan media fotografi yang sangat lekat dengan ‘kemudaan’ para pemilih pemula tersebut.

Sebagai awalan, Panwas Kota Yogyakarta akan melaksanakan acara Sosialisasi Pemilih Pemula yang akan dilaksanakan pada :

Hari : Senin, 11 Desember 2017
Tempat : Sakanti Hotel Malioboro, Jalan Gowongan Kidul Nomor 34 Gowongan Jetis
Waktu : 07.30 – 16.00 wib

Sosialisasi ini sebagai bentuk tanggung jawab Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Yogyakarta dalam memberikan memberikan pemahaman kepada pemilih pemula agar mereka berpartisipasi dalam pengawasan karena mereka pun mempunyai hak untuk ikut berpartisipasi dalam pengawasan Pemilu di Kota Yogyakarta

Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Yogyakarta
Ketua

Iwan Ferdian Susanto, SH

Ketua
Agus Muhamad Yasin, S.Sos (085725349474)

Read more...

Hasil sementara tabulasi Pemilihan Presiden 2014 di Luar Negeri

10 Juli 2014 – Untuk turut menjaga berjalannya pesta demokrasi, Diaspora Indonesia di segenap penjuru dunia yang tergabung dalam Indonesian Diaspora Network (IDN) Global melakukan pemantauan proses tabulasi selama Pemilihan Presiden 2014 di Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) di segenap perwakilan Republik Indonesia. 

Read more...

Versi LSI, Jokowi selalu di atas Prabowo

JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) sudah mengantongi hasil pemilu presiden berdasarkan hitung cepat melalui exit poll. “Berita Exit Poll LSI: Jam 14.00, data sudah masuk 80,25% persen. Jokowi-JK tetap memimpin perolehan suara atas Prabowo-Hatta.

Read more...

Adrinov A.Chaniago : Pengusaha ada persoalan dengan mentalitas

Surabaya-KoPi. Reformasi birokrasi sebenarnya bukanlah hal baru yang saat ini muncul dan berkembang di masyarakat. Sejak dilengserkannya Orde Baru, banyak pihak yang memunculkan wacana reformasi birokrasi untuk menyejahterahkan masyarakatnya. Akan tetapi nyatanya, wacana reformasi birokrasi yang didengung-dengungkan tak kunjung terjadi. Justru yang terjadi adalah birokrasi yang semakin lama justru mencekik dan menyulitkan masyarakatnya.

Read more...

SBY juga di balik pemecatan Prabowo?

Jakarta-KoPi. Pilpres 2014 makin panas. Kali ini beredar surat rekomendasi pemecatan kepada Prabowo oleh DKP (Dewan Kehormatan Perwira) TNI. Para penanda tangan tersebut diantaranya adalah SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang saat ini sebagai presiden RI.

Peredaran surat pemecatan oleh DKP menjadi bola panas yang multi intepretasi. Kalangan pro Prabowo mengatakan surat tersebut membuktikan bahwa ada upaya sistematis menghancurkan karir Prabowo sebagai perwira TNI yang saat itu sedang melejit. Menurut sumber KoPi dari partai Gerindra yang tidak bersedia disebutkan namanya, ada beberapa nama dalam surat tersebut yang memang membenci Prabowo.

"Prabowo itu perwira militer yang cerdas, komitmen mengabdi, dan patriot. Saat itu beliau menjadi rising star di kalangan perwira militer. Inilah yang menyebabkan kemungkinan kecemburuan. Karir Prabowo dihentikan, disabotase. Padahal dialah perwira militer yang sangat visioner pada masa depan Indonesia".

KoPi belum bisa mengonfirmasi tanggapan para jenderal anggota DKP. Beberapa kalangan dalam masyarakat meyakini bahwa surat tersebut sengaja diedarkan.

"Surat usulan pemecatan tersebut sengaja disebarkan untuk membunuh karakter Prabowo sih menurut saya".

Saat ini peredaran surat usulan pemecatan Prabowo tertanggal 21 Agustus 1998 tersebut menjadi perbincangan panas di kalangan masyarakat.*

 

Reporter: E. Hermawan

Read more...

Soekarno Muda dan Srikandi Soekarno Muda Jatim Dukung Prabowo-Hatta

Surabaya-KoPi, Persaingan kursi Presiden Indonesia kian memanas, dukungan terhadap kedua pasang calon Presiden pun terus mengalir. Kali ini Laskar Soekarno Muda dan Srikandi Soekarno Muda Jatim memantapkan hatinya untuk mendukung pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden (Capres -Cawapres) Prabowo-Hatta Rajasa. Dukungan tersebut disampaikan pada saat pengukuhan kepengurusan The President Center Jawa Timur di Dapur Desa, Sabtu (7/6/2014).

Read more...

Prediksi kekerasan pilpres 2014

Pilpres 2014 sudah dalam hitungan hari. Akibatnya panggung politik nasional semakin dinamis oleh pergesekan-pergesekan para elite dan partai politik. Masyarakat sudah terpolar, antara polar Jokowi-JK melawan polar Prabowo-Hatta.

Layar perang urat syaraf memperlihatkan balas pantun kekerasan antara polar Jokowi dan Prabowo. Ejekan-ejekan politik murahan beredar luas dari kedua polar bersaing. Kampanye politik di media massa dan gerakan turun ke bawah dalam bentuk pembagian sembako murah atau makan gratis menjadi kimia sosial yang menstimulasi polarisasi di tingkat akar rumput.

Pada kondisi makin kuatnya polarisasi kelompok-kelompok sosial pada pilpres 2014 ini, bayangan kekerasan adalah hal buruk yang perlu diwaspadai. Kondisi yang tampaknya diacuhkan oleh seluruh kelompok-kelompok kepentingan politik.

Kalkulasi Rasional

Kekerasan adalah fakta sosial yang menjadi bagian integral dalam tata nilai dan norma masyarakat. Manusia yang terlahir dan dibesarkan oleh lingkungannya terus mempelajari kekerasan sebagai instrumen untuk mencapai sesuatu. Pada pengertian moral yang paling dasar, kekerasan adalah cara mempertahankan diri.

Masyarakat klasik melembagakan pengertian moral kekerasan melalui legenda-legenda yang ditransmisikan dari generasi ke generasi seperti kisah Hercules sampai Samson. Masyarakat post-industrial pun melembagakannya melalui film-film superhero dan drama-drama adu fisik yang aspek pelajaran kekerasannya mudah sekali diserap oleh anak manusia. Hal ini memberi pandangan kritis bahwa kekerasan bukan hanya sekedar naluri hewani namun moral yang dipelajari secara rasional.

James B. Rule dalam bukunya Theories of Civil Violence (1988) menyebut kekerasan tersebut sebagai produk kalkulasi rasional. Filosof klasik seperti Thomas Hobbes pun menggunakan istilah “manusia adalah srigala bagi srigala yang lain” bukan bermaksud menempatkan kekerasan sebagai produk irasionalitas manusia, atau kekerasan sebagai akibat ketidaksadaran dan naluriah semata.

Sebaliknya kekerasan adalah instrumen untuk meraih tujuan-tujuan hidup yang dikalkulasi untung ruginya. Hal ini menjelaskan bahwa kekerasan akan selalu muncul dalam berbagai dimensi persaingan meraih tujuan karena menjadi bagian integral rasionalitas manusia.

Pandangan tersebut, sebagaimana pendapat John Burton (1998), merekomendasi perlu dibangun dan diperkuatnya lembaga tata kelola konflik untuk mereduksi kekerasan.

Kekuasaan sebagai sumber daya adalah tujuan dari manusia yang juga bisa diraih melalui instrumen kekerasan. Artinya pilpres 2014 sebagai pelembagaan perebutan kekuasaan bukan tidak mungkin akan disarati oleh letupan-letupan kekerasan.

Beberapa kasus perebutan kekuasaan di tingkat lokal telah memberi landasan empirik perspektif ini. Tengok saja pilkada provinsi Maluku Utara, Jambi, dan Sumatera Selatan. Namun jika dilihat kasus konflik pilkada gubernur di Jatim tahun 2013 lalu, kekerasan tidak muncul di sana. Apakah karena lembaga tata kelola konflik sudah cukup kuat di sana?

Pelembagaan Perdamaian

Lembaga tata kelola konflik memiliki tiga unsur kelembagaan yang saling berkaitan, yaitu lembaga tata keamanan, tata resolusi konflik, dan rekonsiliasi (Susan, 2010). Tata keamanan berkaitan dengan pencegahan kekerasan fisik melalui tekanan oleh aparat keamanan.

Resolusi konflik berkaitan dengan cara menyelesaikan konflik baik meja perundingan dan meja peradilan. Sedangkan lembaga rekonsiliasi terbangun di tingkat masyarakat akar rumput yang menetralisasi polarisasi kelompok menjadi kembali normal dan saling menerima.

Hal menonjol dari tata kelola konflik di pilkada Jatim adalah mobilisasi yang cukup cepat aparat keamanan ke pusat-pusat konsentrasi massa. Sehingga bentrokan antara massa yang telah saling berhadapan bisa dicegah.

Absennya gerakan kekerasan di tingkat akar rumput secara teoritis dipengaruhi oleh variabel elite politik yang selalu bersedia masuk dalam mekanisme resolusi konflik. Mereka tidak menjadikan kekerasan sebagai instrumen memenangkan konflik kekuasaan. Oleh karenanya massa akar rumput tidak digerakkan untuk tindakan kekerasan politik.

Ekspektasi pada absennya kekerasan dalam pilpres 2014 mesti ditopang oleh lembaga tata keamanan dan kesadaran perdamaian elite politik di dalamnya. Walaupun pada realitasnya pilpres 2014 diikuti oleh elite-elite politik yang telah terpolar dan pertaruhan kepentingan sangat besar. Sehingga tingkat kemungkinan adanya elite-elite politik yang menginstrumentasi kekerasan cukup tinggi.

Pada dimensi lembaga rekonsiliasi bisa dikatakan sebagian masyarakat Indonesia belum memilikinya. Secara umum hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya berbagai dimensi kekerasan yang melibatkan masyarakat akar bawah di berbagai konflik politik daerah. Upaya mengusir bayangan kekerasan dalam pilpres 2014 merupakan kerja berat. Perlu digaribawahi tata pengelolaan konflik harus kuat, baik lembaga resolusi konflik dan rekonsiliasi, dan tata keamanan.*

 

*Litbang KoPi

Read more...

Indonesia darurat, Jokowi atau Prabowo penyelamat?

KoPi bekerjasama dengan Sociology Center Departemen Sosiologi Unair memberikan refleksi kepemimpinan politik Indonesia terkait acara Simposium Ilmuwan Sosial pada akhir bulan Juni ini. Berikut adalah paparan konsep Simposium Ilmuwan Sosial Indonesia yang membedah masalah-masalah masyarakat yang harus dihadapi dan dipecahkan oleh para pemimpin politik Indonesia ke depan.

***

Read more...
Subscribe to this RSS feed