Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pampers juga mengandung klorin?

Pampers juga mengandung klorin?

Temuan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) baru-baru ini membuat gempar masyarakat, khususnya wanita. Pasalnya, dalam hasil temuan tersebut YLKI menemukan kandungan klorin dalam pembalut dan pantyliner dengan kadar 5-54 ppm. Memliki bahan yang hampir serupa , apakah klorin juga terdapat di pampers dan breastpad?

Jakarta-KoPi| Ilyani Sudrajat selaku petugas harian YLKI menduga komposisi yang terdapat di dalam pampers memiliki cara pembuatan yang sama dengan pembalut dan pantyliner.

“Saat ini YLKI belum melakukan uji coba mengenai pampers. Namun ini masih menjadi tanda tanya besar bahan apa yang digunakan oleh perusahaaan pampers tersebut” ujar Ilyani.

Ilyani mempertanyakan bahan plicing yang membuat pampers menjadi putih seperti itu dari mana asalnya. Jika diimport dari luar, menurutnya pastinya menggunakan floor. Floor disini akan menciptakan zat dioksin yang menjadi berbahaya.

Sehingga menurutnya, hal itu sangatlah berbahaya bagi bayi. Dikarenakan kulit bayi yang lebih sensitive dibandingkan orang dewasa.

“Apalagi bayi menggunakan pampers dari muka depan hingga belakang. Lalu penggunaan secara terus menerus sepanjang hari. Iritasi pada bayi sangat bisa menimbulkan beragam penyakit dan sangat berbahaya tentunya” tegasnya.

Berbeda dengan penggunaan pembalut ataupun pantyliners, penggunaan pampers justru digunakan secara terus menerus dari hari kehari. Hal inilah yang membuat organ reproduksi bayi tidak bernafas. Sehingga iritasi-iritasi dan memunculkan penyakit-penyakit tertentu bagi bayi.

Meskipun belum dilakukan penelitian mengenai kandungan dalam pampers, Ilyani mempertanyakan bahan yang digunakan pampers saat ini. Dan menduga memiliki proses dan bahan yang sama dengan pembuatan pembalut dan pentyliners.

“Maka dari itu yang kita butuhkan adalah standar yang dikeluarkan oleh kemenkes mengenai penggunaan klorin dalam suatu produk. Hal ini akan menjadi terapan bagi para konsumen untuk lebih hati-hati memilih produk untuk dikonsumsinya” lanjutnya.

Riza, selaku anggota komunitas Ayah Asi mengaku kecewa jika bahan pampers menggunakan bahan yang sama dengan pembalut wanita. Artinya tingkat bahayanya akan sama rata, padahal kulit bayi lebih sensitive untuk menerimanya.

“Orang tua saat ini bisa lebih cerdas dalam memilih. Gunakan pampers pada si kecil saat dia benar-benar membutuhkan. Jika dirumah, lepas pampers. Ajarkan anak toilet training. Awal-awal akan ngompol, tapi ajarkan terus” ujajr Riza.

Menurutnya hal itu sangatlah tepat bagi orang tua yang kebingungan mengenai bahan bahan berbahaya tersebut.

“Saat ini juga banyak pampers jenis kain yang bisa di cuci. Itu saja yang digunakan untuk anak. Pake pampers kapas jika benar benar dalam keadaan butuh dan darurat” lanjutnya.

BACA JUGA: Pembalut mengandung klorin ternyata memicu kanker servix

Klorin dalam pembalut, ini loh yang harusnya dilakukan

Klorin itu racun, Kemenkes harus lindungi masyarakat

Duh, pembalut herbal ternyata lebih berbahaya

back to top