Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Klorin dalam pembalut, ini loh yang harusnya dilakukan

Klorin dalam pembalut, ini loh yang harusnya dilakukan

Hasil penelitian yang baru-baru ini dilkeluarkan oleh YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) membuat ketar ketir sejumlah masyarakat, terutama wanita. Pasalnya, dalam hasil penelitian tersebut ada penggunaan bahan jenis klorin dalam pembalut wanita. Klorin itu sendiri merupakan bahan penyebab timbulnya iritasi.

Jakarta-KoPI| Dalam hasil penelitan tersebut, angka penggunaan klorin tertinggi adalah pada pembalut CHARM yang memiliki kadar 54.73 ppm. Sedang hasil terendah di nomor 9 pembalut jenis Softness dengan kadar 6.05 ppm.

Ilyani Sudrajat, selaku anggota harian YLKI mengatakan bahwa iritasi yang disebabkan dari pembalut yang mengandung klorin akan menyebabkan munculnya beragam penyakit. Iritasi yang secara terus menerus dapat menimbulkan masuknya virus dan bakteri pada tubuh manusia.

“Salah satunya adalah pemicu munculnya penyakit kanker serviks atau kanker leher rahim” ujarnya kepada KoPi.
Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh perempuan untuk menghindari adanya iritasi yang menyebabkan munculnya penyakit tersebut?

Ilyani mengatakan dalam penelitian tersebut YLKI melakukan uji perbandingan. Artinya sampel yang digunakan diambil dari pasar, hasilnya diberikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat dapat memilih mengenai data yang YLKI sajikan.

“Jika mereka memilih untuk ambil produk dengan kadar terendah, it’s not problem. Itu resiko yang harus dipilih masyarakat. Konsumen memiliki kekuatan dan hak pilih mengenai barang yang ada di pasar,” ujarnya.

Tahap yang paling penting yang harus dilakukan wanita, lanjut Ilyani adalah cerdas dalam menggunakan. Pembalut atau pentyliner seharusnya digunakan hanya dalam keadaan wanita membutuhkan. Seperti saat menstruasi atau keputihan.

“Jangan gunakan pembalut atau pentyliner di luar kebutuhan. Beri nafas pada organ intim wanita agar tidak secara terus menerus terpapar barang tersebut,” ujarnya.

Bagi Ilyani, situasi organ intim saat tidak menggunakan pembalut atau pantyliner adalah saat yang tepat untuk pengembangan mickro baik. Dengan begitu daya tahan tubuh manusia meningkat.

“Gunakan pembalut dan pantyliner hanya dalam keadaan darurat saja. Di luar itu, hindari pemakaiannya. Itu yang seharusnya diperhatikan oleh perempuan,” lanjutnya.

BACA JUGA: 

Pembalut mengandung klorin ternyata memicu kanker servix
Pampers juga mengandung klorin?
Klorin itu racun, Kemenkes harus lindungi masyarakat
Duh, pembalut herbal ternyata lebih berbahaya

 

back to top