Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Kebijakan pemerintah menciptakan kesenjangan antar sekolah

Kebijakan pemerintah menciptakan kesenjangan antar sekolah

Jogjakarta-KoPi| Kini praktek pendidikan sekolah negeri menjadi ajang jualan bagi sekolah. Masing-masing sekolah negeri saling bersaing untuk mendapatkan posisi terunggul. Persaingan tak kasat mata terjadi disinyalir karena ketidakjelasan dari kebijakan dinas pendidikan setempat.

Persaingan antar sekolah negeri sangat kentara di kotamadya. Sekolah kota mempercantik gedung untuk daya tarik siswa hingga iming-imimg ekstrakurikuler yang akan mengeksplor skill siswa. Ketika sekolah negeri kota saling bersaing, sementara sekolah negeri di desa pun bersaing. Bedanya, mereka bersaing mendapatkan fasilitas dari Dinas pendidikan.

Selama ini dinas Pendidikan melalui APBD menyalurkan bantuan pendidikan kepada sekolah. Namun dinas pendidikan menyandarkan syarat bantuan pada hal administratif semata.

Menurut Kepala Sekolah SDN Mertelu Baru, Pathuk, Gunungkidul, Jauhari menjelaskan sekolahnya jarang mendapatkan bantuan dari Dinas pendidikan setempat. Akibatnya beberapa gedung mengalami kerusakan dan tidak terawat dengan baik.

Jauhari mengalami dilematis terkait perawatan gedung. Pasalnya peraturan kini melarang sekolah mengambil pungutan dari wali murid. Bila pun memungut tidak memungkinkan dengan kondisi masyarakatnya yang menengah ke bawah.

Sementara tetangga sekolah, SDN Mertelu mendapatkan bantuan rehabilitasi gedung. Padahal secara fisik SDN Mertelu masih memilki fisik yang layak. Jauhari tidak mengerti dasar kriteria Dinas Pendidikan menentukan sekolah yang dibantu.

Hal serupa juga terjadi di Sanden, Bantul. Sebanyak 14 sekolah se-kecamatan Sanden saling berlomba membangun gedung. Pihak sekolah secara personal melakukan lobi-lobi ke elite pendidikan. Semakin dekat relasi dengan pejabat pemerintahan akan lebih mudah mengakses dana pendidikan.

Menurut seorang guru SDN Bantul mengungkapkan dirinya mempunyai kedekatan dengan pejabat dinas. Kedekatan ini memudahkan sekolahnya mendapat bantuan.

Secara terpisah pakar sosiologi pendidikan UNAIR, Dr. Tuti Budirahayu mendesak pihak pemerintah untuk merombak regulasi yang lebih tepat, agar tercipta keadilan sosial bagi sekolah. Selama ini regulasi justru mengakibatkan jurang kesenjangan antar sekolah negeri.

“Harus ada kebijakan yang pro kepada sekolah. Sekolah tertinggal tidak bisa maju, karena mereka kurang infomasi,” kata Tuti penulis buku Kesenjangan Kualitas Pendidikan di Indonesia ini.

Berlakunya otonomi pengelolaan sekolah sama saja membiarkan sekolah baik mampu maupun tertinggal untuk bersaing di rimba pendidikan. “Sekolah tertinggal jangan suruh bersaing. Mereka dibimbing, disupport. Perlahan-lahan bisa bersaing dengan sekolah yang lain,” jelas Tuti melalui seluler.

Tuti menambahkan tugas sekolah tertinggal lebih berat daripada sekolah maju. Pasalnya mereka harus mendidik murid dengan latar belakang sosial, psikologi, ekonomi dan geografis yang sulit. |Winda Efanur FS|Frenda Yentin|Cucuk Armanto|

back to top