Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

HB IX dan Soeharto dalam Serangan 1 Maret

HB IX dan Soeharto dalam Serangan 1 Maret

Yogyakarta-KoPi, Pagi hari, di kawasan Titik Nol, Malioboro. Sekumpulan orang yang didominasi anak muda dan Veteran ’45 berkumpul, Sabtu (1/3/2014). Mereka melakukan upacara peringatan di dalam area Monomen Serangan 1 Maret Yogyakarta. Upacara berlangsung khidmad dan sederhana. Tetapi, tampak mereka yang veteran merasakan getaran emosi di urat wajah mereka. Kenangan atas perjuangan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menumpahkan darah dan meninggalkan duka kehilangan keluarga, teman dan harta membayang, pantas untuk diharukan. Sementara yang muda hanyut dalam ironi yang seremonial semata. Sebagian mereka bahkan tak memahami apa-apa.

Suasana emosial kaum tua –para pahlawan bangsa ini, tentu bukan sekedar drama yang artifisial. Emosi mereka adalah jejak sejarah yang tidak saja harus dikenang dalam empati yang sesaat –namun harus dihayati dan ditranformasikan sebagai kesadaran sejarah yang terang. Dari sini, kaum muda mampu membangun bangsa sesuai tujuan dan harapan para pejuang bangsa secara jujur.

Peristiwa seremonial itu, tampak seperti dunia kecil dalam kaca –yang menghadirkan perhatian sesaat dan kemudian ditinggalkan untuk dilupakan. Dari celah ini, sejarah menjadi sepi dan usang bagi kaum muda. Banyak yang acuh dan tak bersedia memahami karena pelbagai hal. Diantaranya tentu karena kekuasaan politik –yang menempatkan klaimnya sebagai yang paling berperan.

Soeharto, misalnya. Mantan presiden ke dua Republik Indonesia ini sempat mendominasi sejarah “Serangan 1 Maret 1949” sebagai miliknya. Peran Sultan Hamengku Buwono IX sebagai penggagas serangan bersejarah itu dilenyapkan selama lebih dari 32 tahun rezim Soeharto. Akibatnya, masyarakat menjadi gelap sejarah dan dipenuhi dongeng kepahlawanan Soeharto semata. Dan setelah runtuhnya Soeharto masyarakat menjadi kehilangan jejak sejarah yang benar. Bahkan sebagian masyarakat tidak tahu sama sekali.

Seorang mahasiswi, misalnya, ketika ditanya ihwal “Serangan 1 Maret 1949” dan siapa yang berperan di dalam sejarah itu menjawab tidak tahu tentang peringatan tersebut. Beberapa orang menyebut Soeharto sebagai orang yang paling berjasa. Sementara Guritno (40 tahun) seorang pekerja Tambal Ban, menyebut peristiwa itu sebagai heroik, serta menyebut Soeharto, Sultan dan adik Sultan sebagai orang yang terlibat.

Peran Sultan

Kegagapan masyarakat terhadap fakta sejarah ini, menurut Prof Joko Suryo, sejarahwan Universitas Gajah Mada diakibtkan oleh doktrin Soeharto terhadap masyarakat. Kepentingan politiknya menjadikannya tampak ambisius sebagai pencitraan politik. Namun, bukan berarti Soeharto tidak memiliki peran.

“Sebagai Komandan Wilayah Barat, Soeharto punya peran sebagai pelaksana dalam aksi tersebut,” ungkapnya. 

Tetapi sebagai inisiator dan penggagas adalah Sultan Hamengku Buwono IX. Selain Sultan, tentu saja ada orang lain seperti Jenderal Besar Soedirman yang memimpin serangan di Pacitan dan Letkol Soegeng di Wonosobo serta Jendral Oerip Soemahadjo.

Serangan 1 Maret 1949 adalah serangan yang terencana. Menurut Profesor Joko, rencana ini adalah gagasan murni Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

“Beliau menguasai bahasa Belanda serta senantiasa mengikuti perkembangan politik dunia melalui radio. Jadi wajar saja kalau Sultan adalah memiliki inisiatif dan menggagas rencana serangan tersebut. Sementara Soeharto berperan sebagai eksekutor dan koordinator penyerangan, karena saat itu ia adalah komnadan wilayah barat yang ditunjuk Jenderal Soedirman.

Hal senada juga diungkapkan Romo Tirun, kerabat dekat Sultan Hamengku Buwono IX ketika diwawancarai. Dalam peristiwa Serangan Umum 1 1949 itu didahului pertemuan antara Sultan dan Jenderal Soedirman di Pacitan. Sultan mengetengahkan gagasannya dan Soedirman mengatakan setuju dan merekomendasikan Soeharto sebagai komandan yang ditunjuk untuk aksi tersebut.

 

“Sultan memanggil letkol Soeharto masuk ke dalam keraton, yang  menjemput Prabuningrat. Saat itu tanggal 14 Februari 1949. Soeharto diundang masuk ke dalam keraton melalui pintu belakang dengan menggunakan pakain adat keraton. Soeharto saat itu menggunakan kaca mata hitam.”

Pertemuan itu dilakukan dua kali dan terakhir ketika malam 1 Maret 1949. Soeharto saat itu menyatakan siap kepada Sultan.

“Saya siap, kata Soeharto, “ kata Romo Tirun. Setelah itu, Sultan memberikan peringatan bahwa besok akan ada tembak-tembakan, jadi tidak boleh kaget.

Kelak, kemudian hari Soeharto menyangkal adanya pertemuan tersebut. Soeharto membangun jejaring sejarahnya melalui film Janur Kuning dan pelbagai buku. Setelah kekuasaan Soeharto runtuh, kebenaran sejarah mulai terkuak. Masyarakat harus tahu bagaimana peristiwa sejarah itu sebenarnya. Dari sini, kita juga bisa merunut, bagaimana Sultan HB IX berperan sebagai pencetus ide “Serangan1 Maret 1949” yang kemudian mengokohkan NKRI –dan itulah juga mengapa, Yogyakarta tetap terus “Istimewa”.

 

Reporter: Sar lee, Fahrurrazi, Winda

 

 

 

back to top