Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Saat paling menegangkan bagi eksekutor hukuman mati

Saat paling menegangkan bagi eksekutor hukuman mati
KoPi| Pelaksanaan hukuman mati 6 terpidana narkoba menjadi bukti sikap tegas Indonesia terhadap tindak kejahatan narkotika. Namun hukuman mati tidak begitu saja diputuskan. Berbagai proses hukum dan pembuktian harus dilakukan sebelum akhirnya seorang terpidana bisa dijatuhi hukuman mati. Terpidana pun berhak meminta grasi dan peninjauan kembali kepada presiden sebelum hukuman dilaksanakan. Bagaimana sebenarnya proses hukuman mati di Indonesia?
 

Hukuman mati di Indonesia dilaksanakan dengan cara tembak mati. Hukuman mati tidak dilakukan di muka umum dan dengan cara sesederhana mungkin. Regu penembak terdiri berasal dari Brimob, dengan seorang bintara, 12 orang tamtama, dan di bawah seorang perwira.

Di tempat pelaksanaan hukuman, terpidana dapat didampingi seorang perawat rohani jika meminta. Di sana terpidana akan ditutup matanya dengan sehelai kain, kecuali jika terpidana tidak menghendaki. 

Pada saat pelaksanaan, terpidana bisa memilih pelaksanaan dengan duduk, berdiri, atau berlutut. Untuk mencegah salah sasaran, regu penembak diperintahkan mengarahkan senjata pada jantung, kadang dengan bantuan kertas sasaran di dada terpidana. Komandan regu penembak memberi aba-aba dengan gerakan pedang; gerakan pedang ke atas untuk perintah membidik, dan gerakan pedang cepat ke bawah untuk menembak.

Pada waktu pelaksanaan hukuman, regu penembak tidak menggunakan senjata organiknya. Inilah waktu paling menegangkan baik bagi terpidana maupun eksekutor. Beban nyawa seseorang ada di tangan para eksekutor. Regu penembak menggunakan senjata yang sudah disiapkan sebelumnya. Beberapa diisi dengan peluru kosong, sementara hanya sebagian yang memiliki peluru tajam. Tidak ada satu orang pun regu penembak yang tahu atau diberi tahu senjata mana yang berisi peluru tajam. Hal ini untuk menguatkan rasa sepenanggungan, dan juga membuat setiap anggota regu penembak mempercayai bahwa bukan ia yang memberikan tembakan mematikan.

Apabila setelah penembakan terpidana masih belum menunjukkan tanda-tanda kematian, maka komandan regu penembak memerintahkan Bintara regu penembak untuk melepaskan tembakan pengakhir. Tembakan tersebut dilakukan di atas telinga dengan posisi ujung senapan menempel pada kepala terpidana.

 

back to top