Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Revisi UU Ketenagakerjaan bisa mengancam hak anak-anak

www.historyplace.com www.historyplace.com
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) membuat usulan untuk merevisi UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003, khususnya pada perubahan batas usia minimal pekerja dari usia 18 menjadi setidaknya 17 tahun. Usulan ini beralasan pada sulitnya mencari tenaga kerja di sektor padat karya.

Yogyakarta-KoPi| Namun usulan ini sepertinya tidak akan mulus, mengingat banyak masyarakat tidak setuju dengan usulan API tersebut. Sari Murti, SH, misalnya, dari Yayasan Anak DIY menyatakan keberatan dengan revisi tersebut.

"Anak-anak merupakan aset bangsa. Penerus tongkat estafet kelangsungan suatu bangsa. Indonesia sendiri menempatkan posisi anak pada peran yang sangat penting sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karenanya masa depan anak-anak menjadi penting ”, kata ketua Yayasan Anak DIY tersebut.

Sari Murti menyayangkan sulitnya mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Anak-anak kerap menjadi korban dalam pergulatan ekonomi. Di tengah usia belianya, anak-anak terpaksa bekerja guna memenuhi kebutuhan ekonomi.

Dia melihat pihak pemerintah memiliki komitmen yang bagus dengan UU ketenagakerjaan usia 18 tahun minimal anak berkerja. Namun di sisi lain masih rentan terjadi tarik-menarik yang imbasnya pihak anak yang dirugikan.

Senada dengan Sari, Direktur LBH APIK Yogyakarta Rina Imawati, SH juga berpendapat bahwa menurunkan batas usia di bawah 18 tahun sangat rentan bagi anak-anak.  Kondisi psikis dan psikologi mereka belum siap dan beresiko dimanipulasi oleh kepentingan pengusaha.

"Emosi mereka masih labil dan pengetahuan atas hak-haknya masih lemah. Kasihan kalau mereka harus bekerja tanpa skill yang mencukupi."

Rina bahkan mengkitisi konvensi ILO yang membolehkan anak usia 15 tahun bekerja, meksipun dengan syarat batasan jenis pekerjaan tertentu, masih tetap merugikan hak anak-anak dan rentan kekerasan.

" Usia 15 tahun itu kan usia anak sekolah SMP. Dalam usia itu kalau harus sekolah akan rentan dengan kekerasan dan manipulatif."

Poin penting ILO terikat pada dua hal. Batas minimum usia 15 tahun anak bekerja. Dan jenis-jenis pekerjaan anak. Dalam batas minimum usia 15 tahun ini, anak diberikan jenis pekerjaan yang ringan dan mendapat ijin tertulis dari wali atau orang tua.

“Hal ini pula sudah diberlakukan oleh undang-undang di Indonesia, tapi praktek lapanngan itu sangat susah. Banyak anak-anak yang bekrerja di tempat yang berbahaya misalnya mereka bekerja dikonstruksi bangunan sekalipun kerjaan mereka hanya jadi pelayan bantu, tapi lingkungan bangunan cukup membahayakan bagi keselamatannya”, papar Sari Murti.

Rencana Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang mengusulkan Revisi UU Ketenagakerjaan tentang batas usia di bawah 18 tahun untuk jenis pekerjaan padat karya, sebaiknya harus diawasi dan dikritisi untuk melindungi anak-anak dari eksploitasi. Sepertinya memang harus begitu. Jadi, Waspadalah!

back to top