Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Ibu hamil dihukum mati karena dianggap murtad

Ibu hamil dihukum mati karena dianggap murtad

Sudan-KoPi, seorang perempuan Sudan yang sedang hamil yang menikah dengan seorang pria Kristen divonis hukuman mati pada hari Kamis setelah dirinya menolak untuk menarik kembali kepercayaan Kristennya, jelas sang pengacara.

Adalah perempuan bernama Meriam Ibrahim. Ayahnya adalah seorang muslim sementara ibunya adalah penganut Kristen Ortodoks berasal dari Ethiopia. Ibrahim dinyatakan sebagai narapidana “murtad” pada Minggu setelah sebelumnya  ia diberi waktu empat hari untuk bertobat dan bebas dari hukuman mati tersebut, papar pengacara Al-Shareef Ali al-Shareef Mohammed.


Mohammed menilai keputusan ini terlalu terburu-buru dan cacat secara hukum karena hakim tidak mau mendengarkan keterangan dari saksi kunci dan mengabaikan ketentuan undang-undang dasar mengenai kebebasan beribadah dan persamaan warga negara.


Ibrahim dan Wani menikah dalam sebuah upacara resmi di gereja pada tahun 2011 dan mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang berumur 18 bulan bernama Martin. Pasangan ini mengelola sebuah pertanian di Khartoum utara.


Seperti di  beberapa negara islam lain, perempuan muslim di Sudan tidak diperbolehkan menikah dengan non-muslim, walaupun muslim laki-laki boleh menikah dengan perempuan dari agama lain. Menurut hukum, anak-anak harus mengikuti agama ayah mereka. Lebih lanjut, hukum pidana Sudan mengkriminalisasi perpindahan agama yang dilakukan oleh umat muslim di negara tersebut, tindakan pindah agama ini dihukumi dengan hukuman mati.


Selain memvonis hukuman mati, ternyata pengadilan di Khartoum juga memerintahkan agar Ibrahim diganjar 100 cambukan karena dianggap melakukan hubungan seksual dengan suaminya, Daniel Wani, pria Bergama Kristen dari Sudan selatan yang memiliki kewarganegaraan Amerika.


Kasus Ibrahim pertama kali muncul dan menarik perhatian pihak otoritas pada bulan Agustus saat anggota keluarga dari pihak ayahnya mengeluh karena Ibrahim terlahir sebagai muslim namun menikah dengan pria Kristen.


Otoritas pertama kali menghukumi Ibrahim karena kasus melakukan hubungan seks terlarang tahun lalu namun dirinya masih tetap bebas. Ibrahim lalu dihukum dengan kasus “murtad” dan dirinya dimasukkan ke penjara pada bulan Februari setelah dirinya menyatakan di pengadilan bahwa Kristen adalah satu-satunya agama yang ia ketahui.


(Ana Puspita)
Sumber: Foxnews.com
 

back to top