Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi
Surabaya – KoPi | Advokat Sudiman Sidabukke menyatakan seharusnya di depan hukum semua orang memiliki kedudukan yang sama. Namun, karena seseorang punya jaringan dan kenalan, ia bisa menjadi istimewa di sebuah persidangan. Hal itulah yang terjadi pada kasus nenek Asiyani.
 

Berbicara dalam Seminar Nasional Konsolidasi dan Prospek Penegakan Hukum Pasca Konflik Kelembagaan di Universitas Surabaya (26/3), Sudiman mengatakan tidak salah jika publik melihat kasus Asiyani sebagai hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Mereka bertanya-tanya mengapa penangkapan hanya dilakukan pada mereka masyarakat miskin?

“Sebenarnya alasan hukum dari tindak penangkapan adalah adanya kekhawatiran tersangka melarikan diri atau menghilangkan barang bukti. Pada orang-orang kaya kekhawatiran itu jarang terjadi, karena bisnis mereka diketahui publik. Mau lari ya asetnya bisa disita. Tapi pada orang miskin, mereka kan tidak punya apa-apa, jadi penegak hukum khawatir mereka melarikan diri,” jelas Sudiman.

Karena itulah penegak hukum perlu memiliki kepekaan hati nurani. Jika tidak demikian, masyarakat akan semakin kehilangan rasa kepercayaan pada hukum. Mereka telah lama melihat para penegak hukum di berbagai tingkat justru melakukan pelanggaran hukum. 

“Fenomena ini memperlihatkan bahwa prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho sudah dalam kondisi kritis,” pungkasnya.

 

back to top