Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Warung legen ‘drive thru’ dan momok AFTA

Warung legen ‘drive thru’ dan momok AFTA
Surabaya – KoPi | Beberapa motor dengan lincah naik ke atas trotoar dan berhenti tepat di depan sebuah cabang restoran ayam goreng terkenal. Namun bukan restoran ayam goreng itu yang mereka tuju. Sebuah tenda bertuliskan es legen Cakar Mas lebih menarik perhatian mereka.
 

Penjual es legen mudah ditemui di Kota Surabaya. Maklum saja, Tuban sebagai kota penghasil legen berada tidak jauh dari Surabaya. Cuaca Surabaya yang identik dengan panas menjadi ladang rejeki bagi penjual minuman dari sari buah siwalan ini. 

Yang menarik, warung-warung es legen ini selalu berkonsep “grab-and-go”. Artinya, para pembeli hanya sekedar minum es legen dan makan makanan kecil yang ada, membayar, kemudian langsung pergi lagi. Mirip dengan konsep restoran “drive-thru”. Warung ini menjadi jujugan bagi para pengendara motor yang sedang ingin melepas lelah sejenak sebelum kembali ke kesibukan mereka.

Karyawan, sales marketing, anak SD, mereka yang selalu berada di jalan memilih es legen sebagai sarana untuk mengisi energi sebelum kembali berjibaku dengan jalanan. Konsep ‘drive-thru’ ala es legen ini sangat memudahkan mereka yang selalu beraktivitas di jalanan Surabaya. Bahkan seorang pengendara motor berhenti, lalu tanpa mematikan mesin motornya ia memesan segelas es, dan langsung pergi setelah membayar. Inilah konsep warung drive-thru yang tak kalah hebat dengan restoran cepat saji terkenal!

Di tengah persiapan AFTA 2015, warung-warung semacam inilah yang akan menjadi raja di negeri sendiri. Tanpa perlu keterampilan yang khusus, asal berani menangkap peluang, mereka akan tetap bertahan di tengah serbuan pebisnis dan karyawan asing yang nantinya masuk ke Indonesia. Mengapa mesti khawatir pada kehadiran karyawan asing dari ASEAN sementara warung dan kios kecil semacam ini sesungguhnya merupakan penyokong ekonomi nasional.

Lihat saja Wawan, pemilik warung es legen Cakar Mas yang mengaku dalam sehari bisa menghabiskan tiga jerigen legen. Segelas es dibanderol dengan harga Rp 2.000. Dalam sehari, Wawan mengaku bisa mengantongi pendapatan ratusan ribu rupiah.

Masih banyak lagi model bisnis semacam Wawan dan warung Cakar Mas lain di Indonesia. Merekalah tulang punggung perekonomian Indonesia, para pemilik usaha informal. Warung kopi, kios rokok, penjaja asongan, penjual es keliling. Kemudahan mendirikan usaha informal semacam ini sudah seharusnya dimaksimalkan. Tak perlu cemas dengan kehadiran pesaing dari negara lain, selama orang Indonesia mampu memaksimalkan potensi ke-Indonesia-an sendiri.

 

back to top