Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Yogyakarta-KoPi, Sekitar pukul 08.30 Jumat pagi 4 Juli 2014 jalanan di Karangkajen, Yogyakarta sepi dari lalu lalang kendaraan. Hal sama juga terjadi di kawasan Pasar Telo yang merupakan icon daerah Karangkajen.

Kawasan Pasar Telo yang terletak di Jalan Imogiri Barat no. 18 Karangkajen, Yogyakarta buka setiap hari dari pukul 06.00- 21.00 Wib. Pada bulan Ramadhan ini tidak mengubah suasana Pasar Telo yang cenderung sepi. Terlihat hanya satu dua orang menyambangi deretan kios/ warung telo. Mereka berniat membeli telo langsung kepada para penjualnya.

Hingga senja hari pukul 16.00 Minggu sore 6 Juli 2014 suasana sedikit ramai beberapa mobil pick up mengangkut telo yang diambil dari salah satu kios.

Salah seorang pemilik warung, Mardiyono mengakui berjualan telo atau ketela tidak memberikan nilsi ekonomis yang tinggi. Peminat dan pembeli tela tidak seperti jualan komoditas lain yang cenderung stabil bahkan meningkat di bulan Ramadhan.

Di dalam satu petak warung lapuk ukuran 3x 6 meter ini, dia didampingi suaminya Sudi menjajakan dagangannya.

“Satu kilo singkong Rp 2000,  Pendhem Rp 3000, Tiwul Rp 2000, paling mahal Rp 3000, dari situ untungnya lumayan per hari rata-rata Rp 75000 paling banyak Rp 100.000. Kalau beli borongan sekitar 3-5 Kuintal, paling sedikit satu Kuintal”, kata Mardiyono.

Di usianya yang telah menginjak 70 tahun wanita asal Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini setiap harinya naik sepeda motor ke Pasar Telo. Hal itu sudah ditekuni 40 tahun lamanya. Dia dan suaminya, Sudi adalah salah satu penjual dari delapan penjual lainnya yang menyandarkan hidup pada telo.

Reporter : Winda Efanur FS

 

 

 

back to top