Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Sambut MEA, Jatim ingin bangun agro industri

Sambut MEA, Jatim ingin bangun agro industri
Surabaya - KoPi | Pemerintah Provinsi Jawa Timur punya angan-angan ambisius menghadapi masuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Gubernur Jatim, H Soekarwo menargetkan Jatim dapat menjadi provinsi agro industri yang terkemuka di Asia. Hal tersebut diungkapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang telah disahkan Senin (5/9) lalu.
 

“Kita akan menjadikan Jatim sebagai provinsi agro industri terkemuka di Asia. Ini kan namanya visi, terus dikejar. Lain dengan program, ada batas waktunya,” ujar Soekarwo, Selasa (6/9).

Soekarwo menyatakan ada alasan mengapa memilih visi di bidang agro. Menurutnya, ada waktu di mana 60% penduduk Jawa Timur yang bekerja di sektor pertanian. Namun sekarang posisinya hanya 35%. Agar hasil pertanian yang melimpah tersebut tidak membusuk, maka petani harus masuk pada industri-industri. 

“Yang kita validasi industri primer, yaitu yang mengolah dari bahan baku menjadi bahan setengah jadi di tempat itu juga. Jadi proses hulu hilirnya satu lokasi. Kalau hilirnya perusahaan besar, dia tetap jadi petani miskin, terutama buruh taninya,” tegasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, dengan mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi, maka itu menjadi jalan bagi masyarakat Jatim untuk lebih berkembang. 

Untuk mengarah menjadi provinsi industri, lanjutnya, harus dimulai dengan mengembangkan produk olahan sehingga harus ada nilai tambah di dalam bahan baku. “Dari aspek bahan baku Jawa Timur cukup bagus secara kuantitas dan kualitas. Bahkan terbaik di Indonesia,” katanya.

 

back to top