Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Rela bolos demi tes keaslian batu

Rela bolos demi tes keaslian batu
Surabaya – KoPi | Kemilau batu mulia benar-benar menyilap mata semua orang. Booming batu di Indonesia memunculkan para penggemar dadakan. Tak peduli siang atau malam pedagang batu-batuan di pertokoan maupun di pinggir jalan selalu ramai oleh para pemburu batu. Dalam temaram lampu neon mereka berusaha memicingkan mata, mencari tanda mana batu asli dan mana yang palsu.
 

Ya, demam batu di Indonesia membuat banyak orang mengaku dirinya ahli batu. Berbekal senter telepon genggam atau flashlight, mereka merayu orang-orang yang masih awam dengan kata-kata manis. Penilaian asli tidaknya sebuah batu hanya melalui urat batu yang timbul atau lewat percikan air.

Padahal tidak semudah itu menilai keaslian sebuah batu. Saat ini banyak beredar batu mulia sintetis atau buatan dengan kualitas tinggi, sehingga sangat susah dibedakan jika dilihat dengan mata telanjang atau bahkan lewat pembesaran. Metode membedakan keaslian batu dengan melihat urat batu juga tidak lagi bisa dipercaya, karena serat batu juga dapat dibuat.

Satu-satunya cara yang paling ampuh membuktikan asli tidaknya sebuah batu adalah dengan melakukan uji laboratorium. Di sana, batu-batu mulia dapat dinilai oleh para gemologist atau ahli batu profesional. 

Seperti yang dilakukan oleh Tono, seorang karyawan pabrik pupuk di kawasan Surabaya Utara. Demi mengecek keaslian batu miliknya, ia nekad keluar dari kantornya pada jam kerja dan mengebut untuk sampai di laboratorium batu mulia di kawasan Kayoon, Surabaya.

“Alhamdulillah, batu red baron asli, tanpa treatment tambahan,” ucapnya ketika sertifikat batu mulia berhasil diperolehnya.

Tono mengaku baru beberapa bulan ini ikut mendalami hobi batu, ketika demam batu mulia masih belum terasa. Ia mengatakan hobi ini memang penuh resiko. Pada awalnya, ia pernah beberapa kali tertipu, membeli batu yang dikatakan asli, tapi ternyata hanya batu masakan atau sintetis.

Tono mengatakan ia tidak memiliki tempat khusus untuk mencari batu. Umumnya ia hanya mendatangi pedagang batu di pinggir jalan, lalu di sana ia banyak mendapat tawaran batu dari orang lain.

Hal yang sama juga dilakukan Yuwono, seorang pegawai kantor pemerintah Kota Surabaya. Di tengah jam kerja, ia nekad keluar untuk mengidentifikasikan bongkahan batu yang diperolehnya. Menunggu antrean yang lama juga dilakoninya. Padahal, proses identifikasi batu butuh waktu setidaknya 2 hari

“Baru beberapa bulan ini hobi batu. Sudah sayang Mas, kalau antrean saya tinggal, soalnya sudah menuggu lama. Kebetulan di kantor juga tidak sedang sibuk, dan lokasi lab juga dekat kantor,” ungkapnya pada KoPi. 

 

back to top