Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

REI pertanyakan realisasi program satu juta rumah

REI pertanyakan realisasi program satu juta rumah
Surabaya - KoPi | Terjungkalnya nilai tukar rupiah semakin memperberat upaya masyarakat memiliki rumah pribadi. Realisasi program satu juta rumah Presiden Joko Widodo dipertanyakan.
 

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) wilayah Jawa Timur Paulus Totok Lusida mengatakan percepatan pertumbuhan kawasan perumahan tidak diikuti dengan daya beli masyarakat. Akibatnya, hingga sekarang masih banyak penduduk Indonesia yang belum memiliki rumah. 

"Masalahnya, harga rumah dipatok terlalu mahal bagi keluarga baru. Akibatnya sampai sekarang masih banyak pasangan muda yang belum punya rumah," ujar Totok dalam wawancara dengan KoPi (29/5).

Pasar properti Indonesia yang bergairah belakangan ini menjadi penyebabnya. Sejak tahun 2010 bisnis properti di Indonesia meningkat dengan pesat. Hal itu kemudian diikuti dengan kenaikan harga tanah.

Terjungkalnya nilai tukar rupiah juga turut mempengaruhi kenaikan harga properti. Pasalnya, sebagian bahan bangunan menggunakan patokan dollar. "Kalau dollar sudah tembus ke level di atas Rp 13.200, pengembang tidak akan bisa beli bahan bangunan. Krisis seperti tahun 1998 bisa terjadi lagi, karena banyak kredit macet dari pengembang," ujarnya.

Totok mempertanyakan program satu juta rumah yang digagas oleh Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan realisasi program tersebut seharusnya bisa membuat masyarakat miskin bisa membeli rumah. 

"Nah, katakanlah dengan UMR sekarang masyarakat bisa mengangsur Rp 700ribu per bulan untuk membeli rumah, artinya masyarakat hanya bisa mendapat rumah yang seharga Rp 100 juta. Masalahnya, rumah dengan harga segitu hanya ada di kawasan pelosok yang minim fasilitas. Akses ke tempat kerja juga lebih jauh," ungkap Totok.

Ia mengatakan, dengan program satu juta rumah, seharusnya pemerintah memberi subsidi pembelian rumah. Sehingga masyarakat bisa mendapat rumah yang seharga Rp 200 juta hanya dengan uang Rp 100 juta saja.

 

back to top