Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

REI pertanyakan realisasi program satu juta rumah

REI pertanyakan realisasi program satu juta rumah
Surabaya - KoPi | Terjungkalnya nilai tukar rupiah semakin memperberat upaya masyarakat memiliki rumah pribadi. Realisasi program satu juta rumah Presiden Joko Widodo dipertanyakan.
 

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) wilayah Jawa Timur Paulus Totok Lusida mengatakan percepatan pertumbuhan kawasan perumahan tidak diikuti dengan daya beli masyarakat. Akibatnya, hingga sekarang masih banyak penduduk Indonesia yang belum memiliki rumah. 

"Masalahnya, harga rumah dipatok terlalu mahal bagi keluarga baru. Akibatnya sampai sekarang masih banyak pasangan muda yang belum punya rumah," ujar Totok dalam wawancara dengan KoPi (29/5).

Pasar properti Indonesia yang bergairah belakangan ini menjadi penyebabnya. Sejak tahun 2010 bisnis properti di Indonesia meningkat dengan pesat. Hal itu kemudian diikuti dengan kenaikan harga tanah.

Terjungkalnya nilai tukar rupiah juga turut mempengaruhi kenaikan harga properti. Pasalnya, sebagian bahan bangunan menggunakan patokan dollar. "Kalau dollar sudah tembus ke level di atas Rp 13.200, pengembang tidak akan bisa beli bahan bangunan. Krisis seperti tahun 1998 bisa terjadi lagi, karena banyak kredit macet dari pengembang," ujarnya.

Totok mempertanyakan program satu juta rumah yang digagas oleh Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan realisasi program tersebut seharusnya bisa membuat masyarakat miskin bisa membeli rumah. 

"Nah, katakanlah dengan UMR sekarang masyarakat bisa mengangsur Rp 700ribu per bulan untuk membeli rumah, artinya masyarakat hanya bisa mendapat rumah yang seharga Rp 100 juta. Masalahnya, rumah dengan harga segitu hanya ada di kawasan pelosok yang minim fasilitas. Akses ke tempat kerja juga lebih jauh," ungkap Totok.

Ia mengatakan, dengan program satu juta rumah, seharusnya pemerintah memberi subsidi pembelian rumah. Sehingga masyarakat bisa mendapat rumah yang seharga Rp 200 juta hanya dengan uang Rp 100 juta saja.

 

back to top