Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Pesaing banyak, hotel banting harga agar dapat pengunjung

Pesaing banyak, hotel banting harga agar dapat pengunjung
Surabaya - KoPi | Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur M. Sholeh mengatakan pesatnya pembangunan hotel-hotel baru di Surabaya berakibat pada timbulnya persaingan tidak sehat. Pertumbuhan hotel baru di Surabaya terasa paling pesat selama kurun waktu 2011-2014.
 

"Dari kurun waktu 2011 hingga 2014, sudah ada 60-70 hotel baru di Surabaya, baik budget maupun berbintang," ungkapnya kepada KoPi (8/6).

Sholeh mengatakan, karena begitu banyaknya jumlah pesaing, tingkat okupansi hotel menjadi sangat kecil. "Data kami menyebutkan tingkat okupansi hotel di Surabaya hanya 8 sampai 10 %. Sedangkan pembangunan hotel baru mencapai 40 % per tahun. Makanya banyak pengusaha hotel yang rugi," ujar Sholeh.

Dampak semakin banyaknya hotel di Surabaya juga menyebabkan munculnya perang tarif di antara hotel-hotel. Agar kamar mereka tetap terisi, pihak manajemen hotel membanting harga serendah mungkin demi menarik pengunjung.

"Ada hotel bintang 4 yang menjual kamar mereka dengan harga setara dengan hotel bintang 2. Pokoknya gila-gilaan. Semuanya dilakukan supaya kamar mereka terisi," ungkap Sholeh.

Tak pelak, aksi tersebut menimbulkan persaingan tidak sehat. Banyak pengusaha hotel yang rugi atau bangkrut karena tidak mampu bersaing dengan cara seperti itu.

Karena itu, salah satu poin surat PHRI yang dikirimkan ke Walikota Surabaya Tri Rismaharini berisi permintaan agar pemerintah ikut campur dalam penetapan tarif atas dan tarif bawah hotel. Hal itu supaya setiap hotel tidak seenaknya memasang tarif. PHRI berharap tarif yang berlaku sesuai dengan kamar dan fasilitas yang diberikan.

back to top