Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pendidikan keuangan mikro harus ditingkatkan

Pendidikan keuangan mikro harus ditingkatkan
Surabaya – KoPi | Jumlah wirausahawan di Indonesia memang masih jauh dari kategori ideal. Hingga saat ini jumlah wirausaha di taah air secara presentase hanya mencapai 1,65 %dari total penduduk atau sekitar 44,2 juta orang. Namun geliat masyarakat terhadap wirausaha semakin meningkat. Apalagi dengan adanya pelatihan kewirausahaan yang digalakkan oleh pemerintah maupun berbagai lembaga.

Tidak hanya itu, Doing Business 2015 baru-baru ini meluncurkan survey terkait kemudahan berbisnis dalam suatu negara. Indonesia saat ini mencapai peringkat 114 dari 189 dari negara yang di survey. Itu artinya, kegiatan wirausaha di Indonesia semakin menjadi sorotan publik walaupun belum besar.

Adanya kemudahan dan bantuan dari pemerintah maupun lembaga lain dalam pembiayaan modal disinyalir menjadi aspek utama dalam semangat untuk berwirausaha. Bantuan dalam bentuk penanaman modal tersebut membuat masyarakat terbantu untuk meningkatkan kualitas dan juga mutu produk-produk yang dihasilkan.

Namun, masih banyak pula pemilik usaha kecil dan menengah yang belum tersentuh bantuan modal dari pemerintah. Entah tak tersentuh atau sengaja tak meminta. Slamet, salah satu wirausahawan di Surabaya mengaku tidak menggunakan bantuan modal dari manapun. Ia mengungkapkan bahwa seharusnya masyarakat lebih mandiri dengan upaya sendiri.

“Seharusnya orang punya modal sedikit langsung usaha. Saya juga modal awalnya sedikit tapi toh bisa terus berkembang,” ujarnya. Usaha mie ayam yang ia tekuni selama 10 tahun dimodali dengan keringatnya sendiri. Menurutnya, bantuan modal dengan pinjaman memang membantu. Tapi selama masih bisa menggunakan modal sendiri, ia merasa lebih aman.

Sama halnya dengan Bu Rasie. Pemilik toko kelontong ini juga menggunakan modal dengan kantongnya sendiri. Rasie mengaku kerap ditawari lembaga peminjaman modal oleh bank, namun faktor usia membuat Rasie gagal memperolehnya.

“Ya segini saja modalnya sudah cukup, takutnya malah kalau dapat pinjaman, uangnya terpakai untuk biaya lain. Jatuhnya utang bukan untuk usaha toh,” ujarnya. Rasie yang membuka toko kelontong selama 6 tahun ini mengawali usahanya dari sisa tabungan yang ia punya.

Meski saat ini kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan keuangan secara mikro sudah ada, namun Indonesia tetap harus meningkatkan kualitas pendidikan keuangan mikro. Pemerintah juga harus memberi perhatian khusus kepada wirausahawan. Apalagi dengan adanya AFTA yang sudah semakin dekat.

“Keuangan mikro adalah alat yang paling efektif untuk menghapus kemiskinan,” ungkap Dr. Jaime Aristotle B. Alip, pendiri dan Direktur Pelaksana CARD MRI. Karena itu, alangkah baiknya jika masyarakat maupun pemerintah menanamkan pendidikan keuangan ekonomi mikro.

Tidak hanya itu, pendidikan keuangan ekonomi mikro dirasa perlu dan menjadi acuan penting dalam peningkatan wirausaha di Indonesia. Pemberian bantuan modal serta pendidikan keuangan mikro seharusnya dapat meningkatkan skala usaha milik masyarakat. Di tengah era perdagangan bebas yang semakin dekat, pendidikan ekonomi mikro seharusnya mampu meningkatkan daya saing UMKM Indonesia. | Labibah

back to top