Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Kerja di sini, syaratnya harus cacat

Kerja di sini, syaratnya harus cacat
Surabaya - KoPi | Berawal dari kegemaran membuat hiasan-hiasan perabotan rumah tangga membuat Titik Winarti, pencetus Tiara Handicraft, dikenal sampai ranah internasional. Tiara Handicraft, bisnis home industry yang dikelolanya kini semakin melesat dikenal publik. Pada Juni 2013 lalu, Titik diundang ke markas PBB di New York dan meraih Microcredit Award.

Meski saat ini kerap mengekspor ke berbagai negara seperti Brazil, India, dan Amerika, bisnis Titik mengalami pasang surut pada awalnya. Bisnis ini dimulai sejak 1995 dengan 7 pegawai yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sayangnya, kerusuhan 1998 yang terjadi di Indonesia membuat Titik kehilangan sebagian besar pekerjanya. Para pekerjanya merasa hidup di Surabaya tidak aman sehingga memilih kembali ke desa.

Di tahun itu, Tiara Handicraft yang telah Titik bangun selama 4 tahun dan memiliki banyak langganan terancam tutup karena tidak memiliki pegawai. Munculah saran dari seorang kawan untuk mempekerjakan para difabel. Namun, Titik memiliki kekhawatiran, karena baginya mempekerjakan manusia sempurna saja masih timbul kesalahan, apalagi orang cacat. Ia merasa bahwa bisnis rumahan miliknya akan segera bangkrut. Namun dengan tetap mencoba mempekerjakan dua orang difabel dari Sidoarjo dan Nganjuk, Titik merasa yakin pada kelanjutan bisnisnya.

Seiring perkembangan bisnis yang ia kelola, ia justru semakin didatangi oleh para difabel yang ingin memperoleh pekerjaan . Akhirnya tercetus di benak Titik untuk hanya membuka lowongan pekerjaan bagi para penyandang cacat. Sampai saat ini, mayoritas pekerjanya berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, bahkan adapula yang berasal dari Kalimantan. Ia tak membeda-bedakan keterbatasan pekerjanya, penyandang tuna daksa, tuna rungu, dan tuna wicara, semua diterima.

“Syarat utama bekerja di sini adalah harus cacat. Kita tidak memandang latar belakang sosial, apalagi pendidikan. Yang penting cacat fisiknya sebanyak apapun asal ingin bekerja di sini silahkan,” ujar Ade Rizal Winanda, Operational Manager Tiara Handicraft.

Pekerja difabel di Tiara Handicraft tidak bisa dihandalkan secara kuantitas. Itu karena keterbatasan fisik yang membuat pekerjaan mereka menjadi lambat. Namun, secara kualitas pekerja difabel justru sangat bisa diandalkan. Mereka lebih telaten dan minim kesalahan.

Hal tersebut menjadi alasan mengapa produk-produk Tiara Handicraft tidak diproduksi massal. Setiap hari, Tiara Handicraft hanya memproduksi 20-80 buah barang, dengan keuntungan kotor yang per bulan sebesar Rp 30-40 juta.

Selain itu, Tiara Handicraft juga membentuk Yayasan Bina Karya Tiara sebagai payung hukum untuk melindungi para difabel yang bekerja di sana. Bisnis tersebut dijalankan secara social entrepreneurship, memadukan antara bisnis dengan kegiatan sosial membina penyandang difabel di Indonesia.

“Bisnis ini sudah berjalan hampir dua puluh tahun, namun memang berkembang secara lambat dan tidak memiliki keuntungan besar seperti kebanyakan bisnis di Indonesia. Ini karena orientasi Tiara Handicraft tidak sekedar bisnis, tapi juga pengembangan difabel di Indonesia,” ujar Rizal.

Tiara Handicraft menjamin tempat tinggal, makan, dan segala kebutuhan para difabel yang ingin belajar di yayasan tersebut. Rizal menjamin para pekerja tidak terkungkung harus terus bekerja di Tiara Handicraft.

“Mereka memiliki pilihan untuk bekerja di tempat professional lain, atau mengembangkan usaha di daerah mereka masing-masing,” jelas Rizal.

Saat ini Tiara Handicraft menampung 34 orang difabel yang ingin belajar dan bekerja. Namun pada tahun 2007 lalu, home industry ini sempat menampung hampir 80 orang.

“Kami membuka seluas-luasnya kesempatan bagi difabel untuk bekerja di sini. Tidak ada batasan. Siapapun akan kami tampung untuk diberi pelatihan dan pekerjaan,” tutur Rizal.

Proses penggajian yang diberikan disesuaikan berdasarkan produksi yang dihasilkan oleh masing-masing pekerja. Jika giat, pekerja bisa mendapatkan bayaran tinggi. namun jika tidak maka hanya mendapat seadanya. Jam kerja mereka dimulai sejak pukul 8 pagi sampai 4.30 sore. | Labibah

back to top