Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Indonesia sudah di tepi krisis ekonomi

Indonesia sudah di tepi krisis ekonomi
Surabaya – KoPi | Pengamat ekonomi dan pasar uang Farial Anwar mengatakan bahwa Indonesia sudah mengarah ke krisis ekonomi. Beberapa faktor telah mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia sudah berada di titik nadir. Farial menyalahkan sistem pasar modal Indonesia yang terlalu terbuka sebagai penyebabnya.
 

“Kita lihat sekarang, kurs rupiah jungkir balik, lalu pertumbuhan ekonomi triwulan pertama yang lebih  rendah dari perkiraan awal, defisit neraca perdagangan, dan harga komoditas andalan yang terus merosot,” ungkap Farial ketika menjadi pembicara dalam diskusi “Indonesia Di Ambang Krisis Ekonomi?” yang berlangsung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

Farial mengatakan, lemahnya kurs rupiah kali ini disebabkan beberapa faktor, antara lain karena masih adanya ketidakseimbangan ekonomi global. Saat ini guncangan akibat krisis ekonomi tahun 2012 masih terasa. Meskipun Amerika sudah mulai keluar dari resesi, namun beberapa negara di Eropa justru dilanda krisis fiskal. 

“Ekonomi Amerika sudah mulai pulih secara solid. Banyak pengamat yang memprediksi Amerika akan menaikkan suku bunga mereka untuk memperkuat mata uang dollar,” tutur Farial.

Resesi yang dialami Jepang dan pertumbuhan ekonomi China yang melambat ikut menambah beban mata uang rupiah. Konsumsi produk jadi, manufaktur, perumahan, dan investasi di China juga ikut turun. Padahal selama ini, China adalah tujuan utama ekspor Indonesia.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih di luar ekspektasi awal. Pada triwulan pertama 2015, ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,7%, meleset dari target semula yang sebesar 5,5%.

Farial menyatakan, saat ini banyak investor yang kehilangan kepercayaan pada pemerintahan Jokowi-JK. Padahal awalnya mereka sangat optimis pemerintahan Jokowi bisa memperbaiki ekonomi Indonesia. 

“Kenyataannya, banyak menteri Jokowi yang tak layak jadi menteri. Banyak kebijakan mereka yang tidak terealisasi. Bahkan beberapa menteri tidak bisa membuat anggaran,” keluhnya. Farial sendiri berharap ada reshuffle kabinet, yang akan mengganti menteri-menteri titipan dengan orang-orang yang bisa bekerja.

 

back to top