Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Indonesia menerbitkan 14.548 lisensi untuk produk kayu ke Uni Eropa

Indonesia menerbitkan 14.548 lisensi untuk produk kayu ke Uni Eropa

Jogja-KoPi|Kementerian lingkungan hidup dan kehutanan(LHK) RI yang difasilitasi multistakeholder forestry progamme (MFP3) menyampaikan Indonesia telah menerbitkan 14.548 lisensi untuk produk-produk kayu ke Uni Eropa dalam pelaksanaan lisensi Forest Law Enforcement,Governance and Traden(FLEGT) Indonesia di Dinas Kehutanan DIY, Rabu (26/4).

 Berdasarkan data sampai dengan 31 Maret 2017, Indonesia telah menerbitkan 14.548 lisensi untuk produk-produk kayu ke Uni Eropa, dengan bobot total 364.735.450 kilogram yang senilai dengan 400 Juta US Dollar sejak peluncuran lisensi FLEGT Indonesia pada 15 November 2016.

Kementrian LHK menyebut progam lisensi FLEGT ini dapat membantu pengusaha kayu Indonesia dalam mengekspor kayu ke Uni Eropa, karena produk kayu Indonesia dapat dinyatakan sudah memenuhi persyaratan uji tuntas yang berlaku dalam peraturan perkayuan Uni Eropa.

Kementrian LHK juga menyebut Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang berhak menerbitkan lisensi untuk ekspor kayu ke pasar Uni Eropa.

Sementara itu, staff ahli menteri LHK bidang industri dan perdagangan internasional Ir. Laksmi Dhewanti ,M.A, mengatakan selain berfungsi sebagai pemenuhan persyaratan, lisensi FLEGT merupakan bentuk titik balik untuk mengubah citra negara Indonesia yang terkenal sebagai negara penghasil kayu dari penebangan ilegal.

"Perolehan lisensi FLEGT dan pelaksanaan penerbitan pertama hingga saat ini mengandung arti bukan sekedar untuk pemenuhan syarat, tapi juga mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia untuk mengubah citra di masa lalu", kata Laksmi.

Sementara itu, berkaitan dengan Peraturan perkayuan Uni Eropa (EUTR), Mr Charles-Michel Geurts dari European Union Charge d'affaires menjelaskan EUTR memegang tiga prinsip dalam menerapkan peraturannya.

Pertama, EUTR melarang produk kayu ilegal masuk ke pasar Uni Eropa. Kedua, EUTR meminta pedagang Uni Eropa menempatkan produknya dalam uji tuntas. Ketiga, EUTR mengharuskan operator Uni Eropa untuk mengarsipkan seluruh data pemasok dan pembeli mereka.

Mr Geurts menjelaskan dengan adanya lisensi FLEGT yang dipegang oleh Indonesia, maka tidak perlu dilakukan uji tuntas pada produk kayu Indonesia karena lisensi tersebut sudah memadai sebagai bukti legalitas.

"Jika terdapat kejanggalan pada lisensi ataupun dokumen lainnya, maka otoritas kompeten FLEGT di negara pengimpor di UE akan menghubungi Licensing Information Unit (LIU) di Kementrian LHK", katanya.

Laksmi menambahkan dengan adanya lisensi FLEGT,produk furnitur dari Indonesia kini memiliki nilai kompetitif lebih besar. Meski demikian dia juga menghimbau Indonesia agar berhati-hati dengan negara pesaing lainnya seperti Vietnam dan Malaysia yang merupakan saingan Indonesia khusus nya dalam bidang furnitur

"Sesunggguhnya negara asia tengah berlomba untuk menyamai standar yang telah ditetapkan oleh Indonesia, dan kini sedang berancang-ancang untuk menandatangani sekian perjanjian untuk menyusul Indonesia", pungkasnya.|Syafiq Syaiful Ardli

back to top