Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Cengkeraman spekulan asing dalam ekonomi nasional

Cengkeraman spekulan asing dalam ekonomi nasional
Surabaya – KoPi | Pengamat ekonomi dan pasar uang Farial Anwar mengatakan ada berbagai anomali ekonomi yang terjadi di negeri ini. Salah satunya terkait harga BBM. Saat ini harga minyak dunia sedang mengalami temporary rebound, dari harga tertinggi sepanjang sejarah, kemudian merosot ke titik terendah, tapi sekarang sudah mulai naik kembali.
 

“Namun yang terjadi di Indonesia, mengapa harga BBM justru naik di saat harga minyak dunia turun? Ini kan anomali,” ungkapnya di Surabaya (26/5).

Anomali lain adalah banyaknya dana investasi asing yang masuk ke Indonesia, namun rupiah justru terjungkal. Farial mengatakan ini adalah akibat banyaknya hot money yang masuk ke Indonesia. Uang panas tersebut berasal dari beberapa kelompok hedge funds dan spekulan global, seperti George Soros.

Hal itu diperparah dengan kebijakan devisa bebas yang dianut Indonesia. Sistem itu mengijinkan dana asing boleh masuk ke instrumen portofolio Indonesia kapan saja asal mampu memberi keuntungan besar. Namun di sisi lain mereka juga bisa keluar kapan saja. 

“Uang panas dari hedge funds ini sifatnya gampang masuk dan gampang keluar. Istilahnya easy come easy go profit,” jelas Farial. Farial membayangkan jika suatu saat beredar informasi yang menyatakan Indonesia sudah masuk krisis, seluruh dana asing itu akan ditarik serentak ke luar negeri. Pada saat itu, ekonomi Indonesia akan kolaps, seperti yang terjadi pada krisis ekonomi tahun 1998.

Farial juga menjelaskan mengapa dana seperti itu bisa masuk ke Indonesia. Secara eksternal, saat ini ada suntikan dana paket stiumulus ekonomi dari Amerika dan Eropa, sehingga ada dana yang menganggur. Namun pasar kurang berminat menginvestasikan dana tersebut ke Eropa karena di sana sedang terjadi krisis fiskal. Sama halnya di Amerika, karena saat ini suku bunga di sana sedang rendah. Akibatnya dana tersebut kemudian diarahkan ke Asia, dan Indonesia dilihat sebagai salah satu negara yang menjanjikan untuk investasi, di samping China dan India.

Hal itu kemudian didukung faktor internal, seperti pasar modal Indonesia yang masih kecil dan mudah didikte asing. Farial mengatakan kecenderungan pelaku pasar modal Indonesia adalah ikut-ikutan apa yang dilakukan investor asing. Saat investor asing membeli, mereka akan ikut-ikut membeli. Dan saat mereka bilang akan menjual, pelaku pasar modal akan ramai-ramai ikut jual.

Faktor penyebab lain masuknya uang panas dari luar negeri itu adalah suku bunga Indonesia yang tertinggi di Asia, mencapai 7%. Bank Indonesia beralasan ini akibat inflasi yang luar biasa. Selama ini Indonesia selalu gagal mencapai target angka inflasi 4%, karena itu BI menetapkan suku bunga yang tinggi.

Farial mengakui saat ini tidak ada keberanian dari para pemerintah dan pelaku pasar modal untuk mengubah sistem tersebut. Alasannya agar banyak investasi asing yang mengalir ke Indonesia. Namun ada indikasi bahwa ada pihak-pihak yang tak ingin sistem tersebut diubah. 

“Ada kekuatan besar yang mencengkeram Indonesia supaya tidak mengotak-atik sistem ini. Setiap kali ada wacana untuk merevisi kebijakan tersebut, wacana tersebut menguap di tengah jalan. Padahal kalau dibiarkan, akan mengarah ke situasi seperti waktu skandal BLBI dan Bank Century,” tukas Farial.

 

back to top