Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Batik dan budaya lokal dieksploitasi asing, masyarakat jangan bangga

Batik dan budaya lokal dieksploitasi asing, masyarakat jangan bangga
Surabaya - KoPi | Kesadaran mengenai perlindungan budaya lokal mulai muncul di kalangan masyarakat baru-baru ini. Klaim Malaysia atas Reog Ponorogo dan angklung, serta yang terbaru, hak paten tempe mendoan, memicu kesadaran tersebut. Sayangnya, kesadaran tersebut hanya muncul secara reaktif dan timbul tenggelam.
 

Menurut ahli hak kekayaan intelektual Universitas Airlangga Rahmi Jened, era globalisasi membawa konsekuensi eksploitasi terhadap budaya lokal. Banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa kekayaan budaya mereka telah dicuri atau dimanfaatkan dengan tidak adil oleh pihak lain.

Rahmi mencontohkan bagaimana perusahaan pakaian olahraga Adidas memanfaatkan batik sebagai salah satu motif terbaru produk mereka. Adidas juga menggunakan pemain sepak bola terkenal, David Beckham untuk mempromosikan produk mereka. Di dunia maya banyak akun-akun yang merasa bangga karena budaya Indonesia menjadi bagian dari sebuah merk global.

Namun, banyak yang tidak sadar hal ini adalah salah satu eksploitasi budaya Indonesia yang dilakukan oleh pihak asing demi kepentingan komersial. "Padahal, Adidas tidak memberikan timbal balik yang adil kepada pelaku budaya lokal," tutur Rahmi kepada KoPi (18/11).

Rahmi membandingkan bagaimana sikap Australia ketika mengetahui salah satu budaya lokal mereka dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Australia pernah menuntunt kantor berita CNN karena menampilkan tarian tradisional suku Aborigin Australia dalam iklan mereka. Tindakan tersebut dilakukan karena CNN tidak meminta ijin kepada Australia atas penggunaan budaya mereka untuk kepentingan komersial. Hasilnya, Australia menang dan mendapat kompensasi jutaan dollar. 

"Di Indonesia malah sebaliknya. Budaya kita dimanfaatkan orang asing untuk kepentingan komersial, kita tak dapat apa-apa, malah bangga. Padahal Adidas dapat keuntungan yang sangat besar dan tidak memberi kontribusi pada pelaku budaya di Indonesia," tukas dosen Fakultas Hukum UNAIR tersebut.

back to top